Tak Pernah Terbayangkan…

Dikirim Oleh: Neneng di Bandung

Saat aku sedang sendiri di kamarku ditemani laptop yang dibelikan suamiku, aku mencoba iseng nanya-nanya sama Om Gogel tentang MP, eh ternyata aku menemukan blog ini. Salah satu artikel yang ada di blog ini berjudul MP (Malam Pertama). Coba-coba membuka karena memang aku pingin membaca cerita tentang MP, tetapi sayang…..😦 disana hanya tertulis gambaran umum tentang MP saja, nggak ada cerita apa-apa. Akhirnya aku mencoba masuk ke menu Home. pada halaman ini akhirnya tahu bahwa blog Wild Life Imagination ini adalah blog yang menaungi ekspresi terpendam yang mungkin ada dalam benak pembaca. Karena belum ada posting yang diterbitkan, aku jadi kepingin menulis pengalaman MPku dan mengirimnya ke e-mail yang tertera di halaman awal blog ini. Berharap ceritanya bagus dan bisa diterbitkan.

Cerita yang ku tulis ini bukan semata imajinasi liar, tetapi ini sebuah gambaran perasaan saat malam pertamaku bersama suamiku sekarang. Kejadiannya sekitar 2 tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Desember 2009. Saat ini aku telah memiliki sorang bayi yang sangat lucu berusia 1 tahun 2 buan. Maaf jika aku terlalu banyak bicara, aku hanya sekedar memberikan gambaran keadaanku saat itu dan sekarang.😀😀 Ya sudah lah! ku pikir sudah cukup berbasa basi. Mungkin saatnya aku memulai cerita Malam Pertamaku…..

Wild Life Imagination
TAK PERNAH TERBAYANGKAN

 

Aku tinggal di sebuah desa di kecamatan Gununghalu Kabupaten Bandung Barat. Lelaki yang melamarku –yang sekarang jadi suamiku– juga adalah seorang warga desa tempatku tinggal, tetapi sejak lulus SMA, ia kuliah ke UIN syarif hidayatullah Jakarta, dan akhirnya ia menetap di Jakarta karena kebetulan ia diterima bekerja di salah satu penerbitan di Jakarta. Ia memang jarang pulang ke Bandung, sehingga kami jarang bertemu. paling pas lebaran haji ia pulang kampung menengok orang tua dan saudara-saudaranya di kampung.

Saat selepas lebaran itulah, tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan orang tuanya ke rumahku yang ternyata untuk melamarku. Aku tidak begitu saja menerima lamaran itu, karena ada kekhawatiran hubungan yang tidak begitu dekat menyebabkan lembaga perkawinanku tidak bertahan lama. Namun saat aku mencoba menjalin hubungan lebih dekat dengannya, perasaan suka itu tumbuh sendiri dalam hatiku, sehingga aku mempersilahkannya untuk melakukan lamaran ulang untuk mempersuntingku.

Singkat cerita, Acara perkawinan kamipun dilangsungkan seperti pada umumnya perayaan di kampungku. dari persiapan hingga acara resepsinya semua terjadi seperti pada umumnya upacara perkawinan di sini. Bedanya, hari itu akulah yang jadi pengantennya. duduk di pelaminan sebagai Ratu, mendampingi Rajaku menerima para tamu yang tak henti berdatangan dan mengucapkan selamat dan doa restu untuk perkawinan kami…..

Saat yang paling ditunggu-tunggu oleh pasangan penganten baru adalah saat dimana para tamu telah pulang, saat bulan mulai menampakkan sinarnya, saat aku dan suamiku telah boleh bersama dalam satu peraduan ranjang penganten dalam kamarku yang masih berhias indah di setiap sisi-sisinya. Perasaan takut, bahagia, malu, haru, cemas, dan banyak perasaan lain bercampur aduk dalam hatiku. Jantungku sepertinya tidak bisa berdetang secara normal. Berkali-kali aku tarik nafas panjang, tetapi tetap tidak bisa menentramkan kecamuk perasaan dalam hatiku. Seperti inikah perasaan malam pertama? terbesit tanya di benakku….

Saat suamiku membimbing tanganku masuk ke kamar peraduan kami, jantungku rasanya mau lepas saja. Belum lagi saat aku melirik senyum di bibir Ibu dan saudara-saudaraku, perasaan malu tak bisa ku sembunyikan dari wajahku, sepertinya merekapun telah menebak apa yang akan terjadi malam itu di kamar pengantinku. Tetapi di sisi lain aku berpikir, ini memang harus terjadi, dan apa yang akan terjadi selanjutnya tidak ada dalam skenario. Huuh…. menebak apa yang akan terjadi di malam pengantinku, membuatku tak tenang saat berdua dengan Rajaku di kamar ini.

Rasa malu untuk meceritakan kejadian di Malam Pertamaku sebenarnya ada, saat aku mulai masuk ke session ini,🙂 tetapi inilah yang inti dari malam pertama. Mau tidak mau aku harus menceritakannya. Setiap detail kejadian di malam itu masih ku ingat dengan jelas. Malam itu mungkin bukan malam terbaik bagiku, tetapi malam itu adalah malam bersejarah dalam hidupku, di mana aku akan menyerahkan mahkota keperawananku kepada seseorang yang memang berhak untuk mendapatkannya. Dialah suamiku tercinta, tumpuan jiwa dan hati untuk seumur hidupku.

Saat pintu kamarku tertutup, Suami menarik tanganku untuk melangkah ke ranjang penganten kami yang berhias indah di sekelilingnya. Ia mendudukkanku di sisi ranjang dan melangkah kembali ke arah pintu dan dengan hati-hati ia menguncinya. Terlihat sangat pelan, tetapi ceklak!! suara kunci pintu itu terasa masih begitu nyaring terdengar olehku. Seolah-olah, seluruh isi dunia mendengar bunyi itu. Aku berusaha menepis perasaan takut dan malu itu jauh-jauh dari paras wajahku. Ku lihat sebersit senyum menghias bibir suamiku sesaat setelah ia memastikan keamanan ruangan peraduan kami. Akupun tak bisa membiarkan senyum itu terlempar begitu saja. kucoba untuk menarik sisi-sisi bibirku untuk menampakkan senyum di bibirku di antara kecamuk perasaan di hatiku.

Suamiku sepertinya sangat mengerti dengan semua kegelisahan perasaan dalam hatiku, sehingga dengan cepat kedua jemarinya meraih tubuhku seraya menggelitik pinggangku. Tak sengaja saja tawa lepas dari bibirku, sehingga saat itu juga, ia meletakkan jarinya di bibirku. Tersadar dari ketidak sadaran itu, aku langsung terdiam. Dia mengangkat jarinya dari bibirku, dan wajahnya bergerak perlahan ke wajahku. Huuh…!! Deg-degan benar rasanya jantungku. Tak mampu ku tatap matanya yang menusuk begitu dalam ke mataku. ku pejamkan mataku sehingga tidak lagi ku ketahui sudah seberapa dekat wajahnya ke wajahku.

“Tik! tok! tik! tok!….” Detak jam dinding mengalun rapi, seolah berusaha merapikan susunan detak jantungku yang sungguh tak teratur. Ku rasa sudah begitu lama ku pejamkan mataku, tetapi belum ku rasakan ada sentuhan apapun di wajahku, bahkan untuk sekedar hembusan nafasnya pun belum ku rasa. Akhirnya, rasa penasaranku membuatku membuka kembali mataku, untuk sekedar mengetahui apa yang sedang dia lakukan.

Wajahnya yang tadinya ku lihat semakin mendekati wajahku, entah dia ingin mencium bibirku atau sekedar mengecuk keningku, ternyata masih menatap mataku tajam pada jarak terakhir yang ku lihat sebelum aku menutup mataku. Terirat senyum di bibirnya yang membuat keningku berkerut, “Ada apa?” tanyaku padanya.

“Malam ini….” sebuah kalimat tidak lengkap keluar dari bibirnya. Aku menunggu kalimat selanjutnya dengan mengangkat keningku dan melempar senyum kecil kepadanya.

“Malam ini… aku tidak akan menyentuhmu…” Demikian kalimat pertama yang keluar dari mulutnya di malam pertamaku. Jelas saja, kalimat itu membuat keningku kembali berkerut, seiring lahirnya tanya dalam benakku, “Apa ada yang salah denganku?” Setelah melepaskan ekspresi tanya diwajahku, aku menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya perlahan. Dengan sedikit mengubah posisi dudukku, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan pertanyaan dalam benakku.

“Kenapa..!? Apa ada yang salah denganku malam ini..!?” ungkapku dengan suara yang ku tata selembut mungkin. Dia tetap pada posisinya dengan mata yang tetap menatap tajam kedua bola mataku. Kembali tersirat senyum di bibirnya sambil sedikit menggelengkan kepalanya, ia kembali berkata padaku dengan begitu lembut…

“Tidak ada yang salah dengan istriku malam ini….” katanya.

“Terus?” tanyaku berusaha mencari jawaban atas sikap dinginnya di malam yang begitu dinantikan oleh sepasang penganten baru seperti kami. Dengan kembali menatap begitu dalam di mataku, seolah ingin melihat isi hatiku, sesaat ia terdiam, dan beberapa saat kemudian ia berkata lagi.

“Aku hanya tidak ingin menyentuhmu, sebelum aku mendengar satu kalimat dari bibir manismu ini.” Katanya sambil menyentuhkan ujung jari telunjukknya ke bibirku.

“Kalimat apa yang ingin kau dengar dariku?”

“Ucapkanlah bahwa kau mencintaiku dengan kalimat yang tulus dari hatimu…” Setelah ia mengucapkan permintaannya itu, ia menjauh dari wajahku dan berdiri di hadapanku yang masih duduk di sisi ranjang penganten kami itu. Jika sejak tadi dialah yang menatap mataku dalam, mendengar ucapannya itu, benar-benar membalik keadaan. Kini aku yang entah kenapa menatap matanya dengan begitu dalam. Yaah! ku sadari bahwa ia adalah pria yang begitu mengerti suasana hatiku. Mungkin dengan perasaan hati yang bercampur gugup, takut, bahagia, malu dan sebagainya, malam pertama kami tidak akan terasa indah. Setelah menatapnya dalam, akhirnya aku bisa tersenyum. Seketika itu juga aku berdiri di hadapannya dan melingkarkan kedua belah tanganku di lehernya. Tanpa melepaskan senyumku padanya, ku katakan padanya:

“Sayang! aku… mencintaimu….!! Aku mencintaimu setulus hatiku…!!” Huuuh..!! ya ampun…. mengapa begitu mudahnya aku mengatakan kalimat itu padanya? Dia benar-benar membuatku kehilangan rasa malu dan gugup yang begitu memuncak saat berdua dengannya di kamar ini. Tanpa sadar ku peluk tubuhnya dan ku sandarkan kepalaku di dadanya. ku rasakan kedua tangannya telah berada di punggungku mendekap erat tubuhku. Ada perasaan yang begitu damai dan tenang yang tidak pernah ku rasakan seumur hidupku saat kami saling berpelukan malam itu.

Perlahan ku rasakan ia mulai menggerakkan kepalanya dan sedikit terkejut ku rasa saat bibirnya menyentuh bagian kanan leherku. seluruh tubuhku seperti bergetar, merinding merasakan sentuhan yang baru pertama kali itu ku rasakan. Rasanya ingin ku lepaskan pelukanku saat itu saking terkejutnya, tetapi saat itu juga ku sadari bahwa ia adalah suami. ia berhak atas seluruh jiwa dan ragaku. Dengan berusaha menahan rasa takut dan gugup  saat merasakan sentuhan itu, ku putuskan untuk memeluknya lebih erat. Aku mulai berpikir, inilah  saat-saat menjelang suasana malam pertamaku.

“Uuuh…!” kata-kata semacam itu sepertinya ada diujung lidahku, tetapi masih ku tahan dalam hati, saat ia terus memainkan bibirnya di leherku dan semakin lama gerakannya semakin mengarah ke kupingku. Ingin ku gigit saja rasanya bibirku saat aku masih berusaha menahan untuk tidak mengeluarkan rintihan dari di bibirku. Namun “Aaaah….!” sebuah rintihan yang bersamaan dengan hembusan nafasku akhirnya tidak bisa lagi aku tahan, saat ia mulai memainkan lidahnya di telingaku. Mendengar suaraku itu, melepaskan pelukannya dan melangkah menuju tubuhku. Posisiku yang masih berada di sisi ranjang pengantin membuatku tidak bisa mundur lagi, akhirnya tubuhnya jatuh ke ranjang penganten. Bersamaan dengan itu, suamiku juga menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku. Dalam posisi kaki terjuntai seperti ini, aku tidak bisa bergerak apa-apa.

Dalam posisi yang tertindih seperti ini, suamiku begitu mudah untuk melakukan apa saja padaku. Tetapi dapat ku lihat bahwa ia bukan orang yang terburu-buru menyelesaikan malam pertama kami itu. Ia kembali menatap mataku, dan sesaat kemudian ia mencium keningku. Dengan menepiskan sedikit senyum di bibirnya, ia berbisik padaku….

“Aku mencintaimu, Sayang.!” Mendengar ucapannya itu, aku hanya tersenyum kecil. Tetapi senyumku tidak bertahan lama, karena bibirku dikejutkan sebuah kecupan yang begitu tiba-tiba, sehingga aku benar-benar tidak siam menerimanya. Melihat gelagatku, ia melepaskan ciumannya dari bibirku, lalu berkata:

“Sayang! Pejamkan saja matamu…..” Sambil menarik nafas panjang dan mengeluarkannya kembali, ku pejamkan mataku. Tak berapa lama, bibirnya kembali menyentuh bibirku. Semakin lama, bukan hanya sentuhan ayng ku rasakan, tetapi ia telah melumat-lumat bibirku. Aku benar-benar gugup karena memang semua yang akan terjadi di malam pertama itu benar-benar tanpa skenario. Akhirnya aku berpikir, malam ini tidak akan indah jika aku terus memikirkan apa yang akan dilakukannya padaku. Ku putuskan untuk menulis sendiri skenario malam pertama sambil langsung memerankannya.

Keputusan itu membuatku lebih berani menghadapi malam pertamaku. Dengan menarik napas panjang, kembali ku lingkarkan kedua belah tanganku di leher suamiku, dan membalas semua yang dilakukannya di bibirku, ku lumat juga bibirnya sebagaimana ia melakukannya padaku. Semakin lama, ciuman ini bukan hanya saling melumat bibir. Suamiku mulai memainkan lidahnya, dan tanpa harus kembali berpikir, aku pun menyambut permainannya.

Ada hal baru yang ku rasakan dan ingin ku sampaikan dalam kisah ini, bahwa semakin lama ciuman itu semakin membuat hangat suasana kamar penganten. Saling membalas ciuman itu justru memberikan tanda bahwa kami berdua telah siap melakukan hal yang lebih dalam. Tanpa khawatir aku akan marah padanya, suamiku mulai meremas-remas payudaraku yang masih padat menjulang. Setiap awal memasuki permainan yang lebih dalam, keterkejutan selalu menggangguku, tetapi perasaan itu secepat mungkin ku buang jauh, karena malam ini seluruh tubuhku adalah milik suamiku. Aku tak ingin kebingunganku mengganggu hasrat bercintanya.

Pada saat ia meremas-remas buah dadaku, awalnya tak terasa apapun selain rasa terkejut. Namun setelah keterkejutan itu hilang, justru aku merasakan hal yang tidak pernah ku rasakan seumur hidupku. setiap remasan di payudaraku, seolah mengatur desir darahku. Desah nafasku pun seolah mengikuti setiap remasan jemarinya di payudaraku. Tidak ada yang bisa ku katakan untuk mengungkapkan perasaanku saat itu selain, “Uuuuh… nikmat sekali.”

Saat aku mulai merasakan indahnya tiap remasan di payudaraku. Kembali suamiku mengejutkanku dengan permainan selanjutnya. Ia mulai melepaskan kancing bajuku satu persatu, hingga dadaku terbuka di hadapannya. Selanjutnya ia memintaku untuk melepaskan ikatan BH yang masih menutup payudaraku. Sesaat setelah kaitan BH terlepas, saat itu juga puting payudaraku disambut oleh bibirnya. Ya ampuun… suamiku benar-benar menikmati setiap bagian tubuhku. Aku tak bisa membiarkan ia menikmatinya sendiri. Aku berusaha merasakan setiap sentuhan di sekujur tubuhku.

Suara yang keluar dari Desah nafasku, seperti semakin nyaring saja…. Suamiku benar-benar pandai menikmati tubuhku sekaligus menyajikan kenikmatan itu untukku. Seluruh tubuh bergetar, merasakan setiap sentuhan tangan dan bibirnya di payudaraku. Seluruh tubuhku dibuatnya merinding setiap saat, sehingga aku berpikir, “inikah kenikmatan malam pertama yang sering dibicarakan orang dalam bahasa yang penuh tanya..!?” Pertanyaan itu langsung ku bantah dengan jawaban “Belum..!!” karena ia belum menyentuh bagian paling tersembunyi dari tubuhku. Aku berpikir, kenikmatan macam apa lagi yang akan ku rasakan diakhir permainan nantinya.?

Basah sudah kedua payudaraku oleh air liur suamiku yang sejak tadi memainkan mulutnya di payudaraku. Sambil terus mencium, menjilat dan mengenyot payudaraku, ku rasakan sekarang tangannya mulai masuk menyusup ke celana dalamku, hingga ku rasakan jemarinya telah berada di atas permukaan belahan vaginaku. Ya ampuuun… Aku benar-benar merinding dibuatnya. Belum selesai payudaraku dinikmati, sekarang jari-jarinya telah menyentuh belahan vaginaku. Jari-jari itu mulai bergerak naik turun di belahan vaginaku. Nikmat sekali rasanya setiap sentuhan lembut yang dilakukannya di daerah paling rahasia.

Sejujurnya ingin sekali ku lepaskan seluruh pakaian yang menutup tubuhku saat jemarinya mulai bergerak di belahan vaginaku, tetapi keinginanku itu sulit untuk ku ungkapkan. Biarlah suamiku yang menjalankan permainan ini sesuai dengan cara yang dia inginkan. Kenikmatan demi kenikmatan yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya terus membelai perasaanku di malam pertamaku itu. Aku hanya bisa terus mendesah dan dan tak mampu lagi tuk membuka mataku walau hanya sekedar untuk melihat apa yang dilakukannya padaku. Benar kata orang, Kenikmatan memang tidak bisa dilihat, tetapi dirasakan.

Jari tengah suamiku terus saja menyentuh permukaan belahan vaginaku yang terasa semakin basah. Mengapa ia tidak mencoba memasukkan jarinya ke belahan vaginaku. Padahal aku sangat menginginkan sebuah sentuhan di lobang vaginaku ini. Dia benar-benar telah membangkitkan hasrat birahi di jiwaku, sampai akhirnya ia menarik tangannya dari dalam celanaku dan menghentikan ciumannya di payudaraku. Apa yang akan dilakukannya selanjutnya? Pertanyaan yang ada di hatiku itu memaksaku untuk kembali membuka mataku.

“Sayang! Bolehkkah ku lepaskan seluruh pakaianmu?” demikian suara suamiku memalui bibirnya yang begitu dekat dengan wajahku. Harapan yang tak bisa ku ungkapkan sepertinya akan jadi nyata. Ia sepertinya mampu benar membawaku dalam kecamuk harapan dan menjadikannya nyata dalam sesaat. Hanya dengan isyarat “angguk dan senyuman”, ia akhirnya tidak menunggu jawaban dari bibirku. Satu persatu kancing bajuku dilepaskannya, hingga akhirnya aku terbaring di ranjang pengantinku tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhku. Dalam keadaan tubuhku yang telah telanjang, aku dipaksa melihat pemandangan baru di saat suamiku melepaskan pakaiannya satu persatu di depan mataku. Ingin rasanya ku alihkan pandanganku, tetapi matanya tak pernah berhenti memandang mataku. Harus ku nikmati malamku dengan memandang satu persatu pakaian lepas dari tubuhnya, hingga aku harus melihat sesuatu yang menjadi lambang keperjakaannya. Bergetar jantungku saat harus melihat

Setelah seluruh pakaiannya terlepas, dia mulai kembali mencium bibirku. Terbesit tanya di hatiku, “Apakah ia akan memulai permainan malam ini dari awal lagi?” Ternyata tidak. Sambil terus mencium bibirku sedikit demi sedikit ia mulai memperbaiki posisi tubuhnya di atas tubuhku, hingga akhirnya ku rasakan sesuatu telah menempel di permukaan belahan vaginaku. “Oh Tuhan..!! Saat-saat paling mendebarkan akan segera ku rasakan sesaat lagi” Begitulah teriak cemas dalam hatiku. Benda itu terus bergerak di belahan vaginaku dengan dibantu oleh tangan kirinya untuk mengarahkan pada lobang vaginaku yang masih belum terjamah, bahkan oleh diriku sendiri.

Aku terpejam menantikan detik-detik dimana aku akan memberikan keperawananku kepada suamiku tercinta. Tetapi ternyata ia tidak buru-buru untuk mengambil keperawanan itu dariku. Ia masih memainkan kepala penisnya mengiringi belahan vaginaku, sepertinya ia sedang mencari sesuatu di vaginaku yang bisa membuatku melayang sekali lagi. Benar saja! saat setengah kepala penisnya membuka belahan vaginaku, saat itulah ia mulai bersentuhan dengan clitoris yang berada di bagian atas lobang vagina. Setiap gerakan bolak balik penisnya di vaginaku, setiap itu juga tubuhku bergetar karena adanya sentuhan di clitoris yang membuat darahku seakan berdesir cepat. Hingga akhirnya, ia menggerakkan penisnya dengan cepat naik turun di belahan vaginaku, yang membuatku tak mampu menahan tubuhku untuk tetap diam merasakan kenikmatan itu. Tubuhku bergetar hebat, darahku berdesir cepat, desah nafasku tak bisa lagi ku atur mengikuti irama detak jantungku. Kemikmatan yang tak pernah terbayangkan telah membuatku tak bisa lagi mengontrol seluruh tubuhku.

Suamiku masih belum terlihat ingin mengambil keperawananku. Ia menghentikan aksinya dengan menggunakan kepala penisnya. kali ini ia mulai menurunkan tubuhnya hingga kepalanya berada di antara kedua pahaku. Apa yang akan dia lakukan lagi kali ini? Ternyata ia melakukan hal yang sebelumnya mungkin ku anggap sangat menjijikkan. Ia menjilati vaginaku yang sudah sangat begitu basah karena besarnya rangsangan yang ku terima. “Ya Ampuuuun… kenikmatan ini… Oh!” Tak tahu bagaimana aku menuliskannya. Yang terbayangkan saat itu, inilah puncak kemikmatan malam pertama. Lidahnya begitu pandai memainkan clitorisku. ku rasakan vaginaku sangat basah dibuatnya. Aku tak bisa menahan hentakan tubuhku saat ia mampu memberikan kenikmatan untuk tubuhku.

Saat aku mulai tak mampu lagi menahan gejolak birahiku, saat itulah ia menghentikan permainan lidahnya di clitorisku. Nafasku terhengal, aku berpikir bahwa permainan telah usai, tetapi ternyata belum. Kembali ia membuatku terkejut dengan gaya permainannya di malam pertamaku ini. Sebelum birahiku menurun, ia kembali menancapkan kepala penisnya di belahan vaginaku, tetapi kali ini ia tidak lagi bermain dengan clitoris, tetapi mengarahkannya pada lobang yang ada di bawahnya. Kata orang, saat robeknya selaput dara keperawanan akan terasa sakit. Hal itu cukup menakutkanku saat kepala penisnya mulai memaksa masuk ke lobang senggama di vaginaku. Ku rasakan memang terasa sesak sekali saat penis suamiku mulai memaksa masuk ke vaginaku, tetapi sakit yang bersangatan tidak ku rasakan. Perlahan batang penis suamiku menerobos masuk ke lobang senggamaku, masuk sedikit, kemudian ditariknya lagi, masuk lagi lebih dalam ditariknya lagi keluar, begitu seterusnya hingga akhirnya penisnya seakan tenggelam penuh di vaginaku dan terasa begitu sesak di lobang vaginaku yang masih perawan. Tidak terasa sakit seperti yang sering dibicarakan orang. Ku pikir mungkin karena vaginaku yang sudah begitu basah, atau mungkin karena aku masih berada pada suasana birahi yang memuncak, atau mungkin juga karena permainan suamiku yang begitu pandai merangsang hasratku. Entahlah! Tapi yang jelas, ocehan menakutkan tentang sakitnya pecah perawan tidak ku rasakan di malam pertamaku.

Saat penisnya yang besar dan begitu keras tenggelam penuh di vaginaku, ia tidak buru-buru memainkannya. Ia menahan penisnya berada pada posisi terdalam di lobang vaginaku. Sesaat kemudian, ia menarik perlahan penisnya hingga hanya tinggal kepala penisnya yang berada di lobang vaginaku, kemudian didorongnya kembali masuk dengan sangat perlahan. Semakin lama gerakannya semakin cepat. Ku rasakan setiap gesekan batang penis di dinding lobang vaginaku mampu membuat darahku seolah mengalir ke vagina. Semakin cepat gesekan itu, semakin membuatku tak bisa mengontrol tubuhku. Desahan demi desahan terus keluar dari bibirku mengiringi irama gerakan penisnya. Tubuhku bergetar setiap kali batang penis suamiku bergesekan dengan dinding vaginaku.

Batang penis suamiku terasa sangat sesak di lobang vaginaku, sehingga saat ia menerobos masuk ke posisi terdalam vaginaku, lobang kecil vaginaku terasa merekah lebar. Entah apa yang dirasakan suamiku dengan sempitnya lobang vaginaku. Harapanku, ia juga merasakan kenikmatan yang sama denganku di setiap gesekan itu. Di saat aku sedang berada puncak kenikmatan yang tak tertahankan, ku rasakan lobang vaginaku kembali begitu basah. Decak suara di vaginaku meakan mewakili setiap kenikmatan yang ku rasakan. Kapan suamiku akan menghentikan permainannya? Apakah ia tidak lelah? Demikian tanya di benakku, di saat aku tak mampu lagi menahan besarnya kenikmatan yang ku rasakan saat itu.

Tiba-tiba di beberapa kocokan terakhir, suamiku menghentakkan penisnya sedalam mungkin ke lobang vaginaku. Hingga akhirnya ia berhenti dengan penis tenggelam penuh di lobang vaginaku. Ku rasakan denyut-denyut kecil pada batang penis suamiku yang menyesakkan vaginaku. Ku rasakan pula sesuatu yang begitu hangat mengisi lobang vaginaku. Pikirku, mungkin itulah sperma yang memancar dari ujung penis suamiku, sebagai tanda bahwa ia juga telah mencapai puncak kenikmatan dalam hubungan perdana di malam pertama kami ini.

Benar saja… dalam posisi batang penis yang masih tenggelam penuh di lobang vaginaku, ia berusaha mengatur kembali nafasnya yang terhengal-hengal kelelahan. Akupun harus bisa memahami bahwa inilah akhir dari permainan ini. Sperma yang telah tertanam di rahimku berusaha untuk tetap ada dan menjadi buah cinta antara aku dan suamiku. Saat suamiku mencabut penisnya keluar dari lobang vaginaku, aku mengambil bantal guling di samping dan meletakkannya di bawah pantatku, berharap sperma itu mau membuahi sel telur yang telah lama menantinya di dinding rahimku.

Suamiku terkulai lemah di sampingku sambil terus menata irama nafasnya. Ku tatap wajahnya yang kelelahan dan berusaha melempar senyum bahagia saat ia juga menatapku. Dia pun tersenyum puas saat menatapku, dan memeluk tubuhku serasa membisikkan satu kalimat indah di telingaku.

“Istriku luar biasa…!!” bisiknya

“Suamiku juga…”

Malam pertamaku tidak berakhir di situ saja. Beberapa saat setelah permainan pertama itu, kami kembali mencari kenikmatan dalam permainan cinta yang lain. Tak terasa fajar telah menampakkan sinarnya di ufuk timur, pertanda malam pertama akan segera berlalu. Kokok Ayam dikejauhan menjadi tanda bahwa kami harus mengakhiri malam ini dengan satu permainan lagi.  Sungguh malam pertamaku adalah kenikmatan yang tak pernah terbayangkan seumur hidupku…

 

_______________________

Wild Life Imagination: Terima kasih atas kiriman Neneng di Bandung. ditunggu imaginasi anda lainnya.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: