Bodohnya Aku

Kisah dikirim oleh Indra di Lampung

Kisah ini adalah tentang pengalaman hidup seorang teman dekatku yang merupakan sebuah rahasia terbesar dalam masa lalu hidupnya yang berlangsung sampai sekarang. Aku bingung saat akan menulisnya, apakah ku tulis sebagai kisah nyata atau hanya imaginasi yang seolah-olah aku adalah dirinya. Tetapi akhirnya aku memilih untuk menyajikannya seperti apa yang ku dengar darinya saja, karena ini lebih natural, dan lebih mudah untuk ku sajikan, daripada aku berimajinasi tentang dirinya. Thank to WLI for publishing…!!

*****************

Aku adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di kotaku. Aku mempunyai teman kuliah bernama Lia (bukan nama sebenarnya). Dia orangnya cantik namun agak pendiam. kehidupannya seperti penuh dengan rahasia. Namun disisi lain, karakternya itu membuat aku tertarik untuk mendekatinya.Berbagai cara ku coba untuk bisa mencuri hatinya, namun ternyata ia bukan cewek yang mudah tergooda rayuan para lelaki.

Aku hampir putus asa dibuatnya, berbagai pendekatan yang ku lakukan seolah-olah tidak sedikitpun direspon olehnya. Sampai pada suatu ketika, ku lihat ia sedang berdiri di pinggir jalan, mungkin sedang menunggu jemputan atau menunggu angkot. Tepat di depannya, aku menghentikan motorku, seraya melempar senyumku padanya.

“Hai Lia!”

“Hai In..!” Jawabnya sambil melepas sedikit senyum dan kembali menatap jauh hingga ujung jalan.

“Nunggu jemputan ya?”

“Nggak!”

“Angkot?”

“Ya gitu lah!”

“Ikut aku aja, ya! Rumah kamu emang jauh ya? Biar ku antar…” Begitulah kira2 caraku menawarkan jasa padanya. Dia menatapku begitu dalam, sehingga senyuman kecil yang ada di bibirku pun harus ku buang karena tatapannya itu.

“Kenapa? Ada yang aneh? Nggak mau naik motor ya? Hmmm… Ya udah! Ntar keburu ujan looo…!!” Itulah kalimat terakhirku saat mencoba menebak apa arti tatapannya. Sambil kembali memasang helmku, dan menghidupkan mesin kendaraanku, tiba-tiba ku dengar sebuah pertanyaan yang mengejutkan keluar dari bibirnya.

“Kamu ngekost atau rumah sendiri?”

“Apa?” tanyaku, seolah-olah aku tidak mendengar jelas pertanyaannya.

“Kamu ngekost atau rumah sendiri?” demikian ia mengulangi pertanyaannya.

“Kenapa memangnya?” Aku bingung kenapa dia bertanya begitu.

“Jawab aja!” Sepertinya dia memaksa.

“Aku tinggal di komplek Adithia. rumah kredit. Kenapa memangnya?”

“Sama siapa?”

“Rencananya sama adikku… nanti akau dia udah kuliah.”

Dia memegang tanganku sambil berkata, “Aku ikut ke rumahmu ya?”

“ke rumahku..!!?” Tanyaku penuh ke bingungan.

“Iya! ayo, nanti aja di rumahmu ceritanya…”

“Ya! Oke Oke Oke!!” Tanpa pikir panjang, ku hidupkan lagi mesin motorku, tanpa perlu trayek tambahan, karena kamu punya tujuan yang sama, yaitu rumahku…πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

***********

Sejak dari kampus, langit sudah teringat sangat hitam. Kami beruntung karena hujan akhirnya turun dengan lebatnya tepat saat kami tiba di rumahku. Lia pun langsung melompat pelataran rumah kecil berukuran 36. Sementara aku harus membuka pintu selasar di samping rumahku. Jelas saja, aku tidak bisa menghindari hujan, karena setelah memasukkan motorku, aku harus menerobos hujan untuk kembali ke pintu depan rumahku.

Cepat-cepat ku buka pintu, dan ku suruh dia masuk. Karena pakaianku basah, jadi ku suruh saja dia duduk di ruang tamu. Hanya dengan sedikit senyuman mengiri kata terima kasih dari bibirnya, diapun duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu.

“Ni remote, kalau mau nonton TV… Aku ganti pakaian dulu ya!” Dia hanya tersenyum kecil kepadaku. Juga dengan senyum kecil, ku tinggalkkan dia sendiri di ruang tamu, untuk ganti pakaian sekalian mandi.

πŸ™‚ Moment mandi di sensor aja ya! Hehe…πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

“Maaf ya! agak lama… aku sekalian mandi.!” sapaku saat aku kembali mendatanginya di ruang tamu rumahku. Aku duduk di sampingnya sambil mengambil remote yang diletakkannya di samping tenpat duduknya.

“Rumah kamu di mana sih?” Ku coba memulai pembicaraan, tetapi dia diam saja. Akhirnya ku coba melempar topik lain padanya yang hanya diam melihat sebuah acara reality show yang ditayangkan sebuah stasion televisi swasta nasional.

“Kamu suka acara ini, ya? Boleh ku pindah, nggak?” Pertanyaanku ini juga tidak dijawabnya. Aku berpikir untuk membicarakan hal yang lebih serius padanya.

“Lia! tadi katanya mau cerita kalau sudah sampai di rumah. Ada apa sih sebenarnya?” Aku berhasil… Yes!πŸ˜† Dia menatapku beberapa saat, tetapi bukan jawaban yang aku dapatkan. Dia malah balik meminta kepadaku.

“In..! Kamarmu di mana? Aku mau ganti pakaian.”

“Oh ya ya! masuk aja lurus, kamar sebelah kanan, itu kamarku.”

“Nggak enak masuk sendiri. Tunjukin ya!”

“Ya, baiklah!”

Aku beranjak dari tempat dudukku sambil berjalan masuk untuk menunjukkan di mana kamarku. Lia berjalan mengikutiku sambil memasang kembali tas kuliah di lengan kanannya. Saat berada di depan kamar, ku bukakan pintunya dan mempersilahkan dia masuk.

“Terima kasih, ya In!” Dia masuk melangkah ke dalam kamarku, saat dia memegang gagang pintu kamarku bagian dalam. Dia menatapku lagi sambil tersenyum, sepertinya dia mau menutup pintu kamar dan memintaku untuk menunggu di luar. Jadi dengan melempar senyum lagi, ku katakan padanya.

“Ya, sama2… Aku tunggu di depan ya!” seraya melangkah menjauh dari pintu kamar itu. belum sempat aku menjauh, tiba-tiba dia memanggilku lagi.

“Indra!”

“Ya!?” Jawabku spontan, sambil kembali ke depan pintu kamarku. Ku lihat dia masih pada posisi sebelumnya, tangannya masih memegang gagang pintu yang setengah terbuka. Tiba-tiba dia memegang tanganku dan berkata.

“Kamu jangan ke depan!”

“Terus?”

“Masuk aja! Inikan kamarmu…” Aku tidak mengerti apa maksudnya. Keningku berkerut mencoba mencari jawaban dari raut wajahnya yang begitu dingin.

“Tapi… kamu kan mau….” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dia melanjutkan sendiri kalimat yang akan ku ucapkan itu.

“… mau ganti pakaian? Indra! masuk sini aja dulu, ya..!!” Dia menarik tanganku dan memintaku untuk masuk ke kamar. Aku tidak mengerti apa maksud dari semua ini, tetapi aku juga tidak mau memaksa untuk tidak masuk. Pikiran yang aneh-aneh mulai masuk ke kepalaku, mungkin juga sedikit bisikan menggoda juga meracuni pikiranku. Tetapi semua pikiran itu aku simpan saja dalam pikiranku.

Saat aku sudah berada dalam kamar, Lia menutup pintu dan menguncinya. Kemudian dia berdiri di depanku, sambil berkata kepadaku.

“In! kamu percaya ya aku mau ganti pakaian? memangnya aku ke sini bawa pakaian? Kamu itu bodoh, In..!!” begitulah kata-katanya yang membuatku benar-benar merasa bodoh. Namun begitu, aku belum menemukan jawaban atas semua ini…. aku masih merasa benar-benar bodoh di depannya. Sambil menggaruk kepala, dengan jari telunjukku, aku kembali bertanya….

“Terus!?” Mendengar pertanyaan singkat itu, dia berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di sana.

“Seperti kataku, aku mau bercerita padamu, In!”

“Oh, begitu…!” Aku pun mendekat ke arahnya sambil mengambil kursi di depan meja belajarku dan meletakkan di hadapan Lia yang telah duduk santai di tempat tidurku. Aku duduk di kursi belajar itu dan ku katakan,

“Oke! Indra sudah siap mendengarkan cerita Lia.” Kebodohanku ternyata tidak berakhir di situ. Lia berdiri di hadapanku dan melepaskan satu persatu kancing bajunya, hingga sedikit demi sedikit BH berwarna coklat krim yang menutup payudaranya mulai tersingkap. Aku tak bisa bicara apa-apa, karena pikiranku benar-benar kacau dibuatnya. Aku benar-benar jadi bodoh di buatnya. Tidak ada satu pertanyaan pun tentang ini di ada pikiranku yang mampu ku jawab.

Sesosok wanita yang ku kejar-kejar namun tak bisa ku dapatkan, sekarang telah berada di hadapanku sambil melepaskan satu persatu pakaian yang menutupi tubuh mulusnya. Permasalahannya adalah, aku membawanya ke rumahku sama sekali bukan dengan niat untuk menikmati tubuhnya, tetapi memang karena ia sendiri yang memintanya. Aku terdiam seribu bahasa, karena aku akan terlihat lebih bodoh, jika pikiran-pikiran aneh di otakku ini ku ungkapkan dalam bentuk perbuatan. Namun di sisi lain, aku juga merasa sudah begitu bodoh, karena aku tidak melakukan apa-apa terhadap sesosok tubuh wanita telanjang di depan mata. Lia benar-benar membuatku bodoh di rumahku sendiri.

Lia yang tela melepaskan seluruh pakaiannya kecualiΒ  BH dan CDnya, kini berdiri di depanku sambil menarik t-shirt yang ku kenakan. Aku tak berani melakukan apa-apa hingga saat perlahan wajahnya mendekat ke telingaku dan membisikkan satu kalimat padaku.

“Jangan bodoh, In..!! Ini kamarmu…” Mendengar kalimat itu, aku sadar betapa bodohnya aku di rumahku sendiri. Akhirnya ku perang wajahnya. Ku tatap matanya sedalam mungkin, dan ku cium bibirnya. ku lihat ia memejamkan matanya dan menyambut ciumanku. Merasakan adanya respon yang baru pertama ini ku rasakan sejak aku berusaha mendekatinya, aku tak pikir panjang lagi. Ku rebahkan tubuhnya di tempat tidur dan ku lucuti CD dan BH yang masih menutup tubuhnya. Begitu juga dengan pakaian yang masih melekat di tubuhku pun ku lepaskan semua, hingga dengan tubuh telanjang, kami bercinta di kamarku seraya ditemani hujan yang masih begitu deras di luar sana yang menambah indah suasana.

Aku tidak akan bercerita tentang bagaimana indahnya percintaan aku dan Lia yang sungguh tidak pernah aku sangka akan terjadi sore hingga malam itu di rumahku. Namun satu hal yang pasti, ada satu kepuasan yang ku dapatkan saat aku akhirnya berhasil mendapatkan lebih dari yang ku harapkan dari seorang wanita yang telah lama ku kejar. Mungkin lain kali saja, jika memang perlu…

**********

Malam tak terasa telah menyelimuti suasana rumahku. Indahnya bercinta dengan wanita yang ku damba benar-benar telah membuatku melupakan segalanya. Sementara itu, hujan masih belum berhenti menyirami bumi, meskipun tidak selebat tadi sore saat kami tiba di rumahku. Dalam lelahnya selepas bercinta, Lia yang menatap langit-langit rumahku sepertinya sudah memulai ceritanya…..

“Seperti inilah yang ku lakukan sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, In..!” Mendengar awal ceritanya itu, aku benar-benar terkejut. Aku berpikir, ternyata di balik kecantikan Lia yang begitu dingin dan anggun, ternyata tersimpan sisi gelap kehidupan.

“Oops! gimana ceritanya?”

“Peluk aku, In..!” seraya memiringkan tubuhnya ke arahku memintaku untuk memeluknya. Dengan serta merta ku peluk tubuh mulus dan indah itu seperti harapannya. Seakan-akan ia menemukan kedamaian saat berada dalam pelukanku. Selanjutnya di tempat tidur inilah Lia memulai memaparkan sebuah rahasia kehidupannya yang begitu gelap.

Baca cerita lengkapnya… (Terlalu Dini Mengenal Cinta)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: