Terlalu Dini Mengenal Cinta

Cerita Sebelumnya…. (Bodohnya Aku)

Malam tak terasa telah menyelimuti suasana rumahku. Indahnya bercinta dengan wanita yang ku damba benar-benar telah membuatku melupakan segalanya. Sementara itu, hujan masih belum berhenti menyirami bumi, meskipun tidak selebat tadi sore saat kami tiba di rumahku. Dalam lelahnya selepas bercinta, Lia yang menatap langit-langit rumahku sepertinya sudah memulai ceritanya…..

“Seperti inilah yang ku lakukan sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, In..!” Mendengar awal ceritanya itu, aku benar-benar terkejut. Aku berpikir, ternyata di balik kecantikan Lia yang begitu dingin dan anggun, ternyata tersimpan sisi gelap kehidupan.

“Oops! gimana ceritanya?”

“Peluk aku, In..!” seraya memiringkan tubuhnya ke arahku memintaku untuk memeluknya. Dengan serta merta ku peluk tubuh mulus dan indah itu seperti harapannya. Seakan-akan ia menemukan kedamaian saat berada dalam pelukanku. Selanjutnya di tempat tidur inilah Lia memulai memaparkan sebuah rahasia kehidupannya yang begitu gelap.

********************

 

Dikirim oleh Indra di Lampung

Malam itu Lia menceritakan semuanya kepadaku tentang rahasia kehidupan pribadinya yang disimpannya sendiri sampai sebelum ia menceritakannya padaku. Ku kirim cerita ini karena aku berat rasanya untuk menyimpan rahasia wanita terdekatku sendiri. Walau pun hanya berupa tulisan, setidaknya aku merasa lega bisa berbagi beban meskipun dengan bahasa yang berbeda.

********************

Lia adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Lia juga satu-satunya anak perempuan dari pasangan Slamet dan Mariana. Kedua andiknya bernama Dana dan Amy. Mereka adalah keluarga sederhana yang tinggal di sebuah desa di Kecamatan xxxxxxxxx. Awalnya kehidupan Lia dan keluarganya cukup bahagia, sampai saat melahirkan adiknya yang keduanya, Amy, Ibunya meninggal dunia. Sejak saat itu kehidupan mereka seperti tidak lagi seperti sebelumnya, terutama bagi Lia. Di sinilah awal cerita kehidupan Lia yang ia ceritakan kepadaku.

Pada saat itu, Lia baru berusia 10 tahun. Ia baru duduk di bangku kelas 4 SD waktu itu. Adiknya yang pertama, Dana baru berusia 4 tahun, dan si kecil Amy, yang harus memulai hidup tanpa sempat mengenal dan merasakan kasih sayang seorang Ibu. Ayahnya adalah seorang Guru di sekolah dasar, yang mana di tempat itu pulalah Lia bersekolah. Jadi, saat sekolah Lia biasa ikut Ayahnya naik motor. Sementara itu, setiap pagi, Dana dan Amy harus dirawat dan diasuh oleh tetangga mereka. Jika Lia dan Ayahnya sudah pulang dari sekolah, barulah mereka kembali yang menggantikan tugas merawat Dana dan si kecil Amy.

Dari keadaan ini, awalnya saya tidak melihat ada pola kehidupan yang janggal. Semua terlihat normal saja. Lia dan keluarganya juga beruntung hidup di lingkungan yang masih peduli dalam hidup bertetangga. Namun cerita Lia selanjutnya benar-benar membuatku terperanjat. Dalam usianya masih tergolong anak-anak, ia telah diminta oleh Ayahnya menggantikan fungsi Ibunya, mulai merawat dan menjaga adik-adiknya, memasak, membersihkan rumah, hingga urusan dalam kamar Ayahnya.😳 …. Maksud saya, yaitu Lia juga melayani Ayahnya dalam berhubungan intim, mengganti fungsi Ibunya.

Menurut Lia, pada awalnya ia menganggap itu hal itu wajar. Karena ia adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluarga itu, sekaligus juga anak tertua, jadi ia menganggap bahwa menggantikan pekerjaan Ibunya yang telah meninggal memang menjadi kewajibannya.

Penjelasan Lia itu membuatku bertanya, bagaimana Ayahnya bisa melakukan itu padanya? Lia menceritakan semuanya dari awal kejadiannya, kenapa ia sampai menggantikan fungsi Ibunya secara total sejak usia yang masih terlalu muda.

Rumah Mereka memang tidak terlalu besar, hanya terdiri dari ruang tamu, ruang makan, 2 kamar tidur, dan dapur. Kegiatan mencuci, mandi dan buang air, semuanya dilakukan di sungai yang kebetulan berada di belakang rumah Lia. Kamar tidur yang berada di depan, pada awalnya adalah untuk Lia dan adiknya, Dana. sementara kamar belakang di belakang adalah kamar tidur orang tuanya. Lia dan Dana memang sudah dibiasakan mandiri sejak kecil, sehingga untuk urusan tidurpun sejak kecil mereka sudah dipisahkan dari orang tua mereka.

Semenjak si kecil, Amy lahir, susunan kamar berubah. Dana tetap di kamar tidur yang berada di depan, -meskipun pada awalnya ia tidak mau, namun karena diberikan pemahaman tentang arti kemandirian, akhirnya ia bisa terima–, sementara Lia dan si kecil Amy, tidur di kamar Ayahnya. Kata Ayahnya, sebagai pengganti Lia tidak apa-apa tidur dengan Ayah. Lia memahami kata-kata Ayahnya itu sebagai tanggung jawab sebagai anak perempuan sekaligus sebagai anak tertua. Meskipun demikian, pada awalnya Lia tidak tidur satu ranjang dengan Ayahnya. Ia tidur di kasur yang diletakkan di dekat tempat tidur si kecil Amy.

Awal kejadiannya terjadi, sekitar satu bulan setelah Ibunya meninggal. Lia akhirnya juga harus menggantikan fungsi Ibunya untuk melayani Ayahnya di tempat tidur. Pada saat itu, terjadi percakapan antara Lia dan Ayahnya setelah Lia menidurkan Amy, adik kecilnya.

“Lia!”

“Ya, Yah!”

“Amy sudah bobo?”

“Sepertinya sudah.”

“Lia! sini Ayah mau bicara?”

“Iya, Yah! Ada apa?”

“Kamu kangen nggak sama Ibu?”

“Ya iyalah! Lia kangen…”

“Ayah juga kangen, Sayang!”

“Rasanya beda antara ada Ibu dan tidak ada Ibu. Lia dapat merasakan betapa lelahnya Ibu memelihara Lia dulu…”

“Lia! Sebagai anak perempuan tertua, kamu jelas merasa lelah memelihara adik-adik kamu. Tetapi coba kamu lihat Ibumu. Dari kamu kecil hingga sebesar ini, kemudian ia merawat adik kamu Dana. Dia tidak pernah mengeluh seperti Lia…”

“Iya ya, Yah! Lia ingin seperti Ibu.”

“Lia! Ayah suka sama Lia, karena Lia sudah menjalankan fungsi Ibu kamu dengan baik. Tetapi ada satu hal antara Ayah dan Ibu yang belum Lia ketahui, mengapa Ibumu tidak pernah merasa lelah menjaga, memelihara dan membesarkan Lia dan Dana…”

“Apa itu, Yah!”

“Ini rahasia Ayah dan Ibu, Sayang…!!”

“Ayah curang! Lia kan juga ingin seperti Ibu… selalu tersenyum meskipun merasakan lelahnya menjaga kami dulu..”

“Dengar, Sayang! Ini adalah rahasia Ayah dan Ibu, dan ini rahasia semua orang tua…. Jika Ayah ceritakan ini ke Lia, Lia harus janji untuk menjaga rahasia ini dalam hati sampai mati seperti Ibumu.”

“Lia janji!”

“Bener janji..!!”

“Bener! Lia janji..!!”

Begitulah Lia menceritakan padaku bagaimana awalnya hingga ia menjadi anak perempuan tertua yang sekaligus menggantikan fungsi Ibunya secara total. Kemudian aku bertanya, bagaimana rasanya saat itu? Bagaimana ia harus melepaskan kegadisannya dalam usia yang masih sangat muda.

Keinginan Lia yang besar untuk bisa mencontoh Ibunya yang sabar merawat anak, membuatnya siap melakukan hal yang dikatakan oleh Ayahnya. Saat pertama itu, Ayahnya tidak langsung melakukan hubungan intim dengan Lia. Ia hanya memperkenalkan fungsi alat kelamin masing-masing. Bagaimana nikmatnya saat alak kelamin itu disentuh dan disatukan. Saat pertama kali itu, Lia  diminta mengocok penis Ayahnya dan diperlihatkan bagaimana kenikmatan dan kepuasan pria saat sperma kemancar dari alat kelamin. Lia diberikan bayangan bahwa seperti itulah saat penis masuk ke lobang senggama Lia.

Lia juga diperkenalkan oleh Ayahnya kenikmatan hubungan yang bisa dirasakan oleh Lia. Ayahnya menyentuh belahan vagina Lia dan memainkan klitorisnya dengan hati-hati. Lia menghayati permainan itu dengan rasa tanggung jawab, sehingga ia akhirnya juga mendapatkan kenikmatan dari permainan jari yang dilakukan Ayahnya. Betapa dalam usia yang masih tergolong masih anak-anak, Lia telah berhasil menemukan kenikmatan yang hanya dirasakan oleh orang dewasa. padahal saat itu, ia belum pernah menstruasi. Ayahnya rupanya sangat jago dalam mengajari anak-anaknya, termasuk dalam hal bercinta.

Malam berikutnya, setelah Lia menidurkan si kecil Amy. Mereka kembali melakukan hal yang sama. Namun kali ini, bukan hanya sebatas clitoris yang diajarkan Ayahnya, tetapi Lia mulai diberikan contoh bagaimana rasanya jika penis masuk ke lobang vaginanya. Ayahnya memasukkan jarinya ke lobang vagian Lia dengan hati-hati dan perlahan. Lia juga berusaha merespon itu sebagai pelajaran awal, sebelum ia masuk pada pelajaran inti, yaitu masuknya penis ke lobang vaginanya.

perlahan tetapi pasti, jari Ayahnya berhasil tenggelam di vagina Lia. Sesaat kemudian, Ayahnya mulai memainkan jarinya di lobang vagina Lia. Menurut Lia, ia tidak merasakan sakit saat itu. yang ia rasakan hanya perasaan nikmat menghanyutkan. Bahkan katanya, rasanya ia ingin segera merasakan bagaimana rasanya penis yang masuk ke vaginanya.

“Penis Ayah lumayan besar untuk ukuran vaginaku saat itu. Sejak Ayah memperlihatkan kemaluannya yang besar panjang dan keras, aku sudah berpikir, bagaimana mungkin penis itu bisa masuk ke lobang Vaginaku yang masih sangat sempit.” demikian Lia menggambarkan keadaan sebelum ia melakukan hubungan senggama yang sebenarnya. Pada saat itu, ia juga terkejut, karena penis yang pernah dilihatnya hanyalah milik Dana, adiknya. ukurannya hanya seperti Ibu jarinya saja. Tetapi saat melihat penis milik Ayahnya, apalagi saat ia mengetahui penis itu adalah teman vagina. Lia memahami permainan jari Ayahnya adalah untuk mempersiapkan vaginanya untuk sesuatu yang lebih besar.

“Sekitar seminggu Ayah melakukan permainan jari saja di vaginaku. meskipun hanya dengan begitu, aku bisa mencapai kepuasan, tetapi sejujurnya saat itu aku ingin sekali merasakan penis Ayah yang masuk”. Demikian ungkapan Lia kecil yang yang masih bodoh dengan segenap rasa penasarannya. Selanjutnya Lia menceritakan padaku tentang saat pertama kali vaginanya dimasuki penis Ayahnya.

Kata Lia, malam itu Ayahnya tidak lagi memainkan jarinya di vagina Lia, tetapi ia direbahkan di sisi tempat tidur kemudian Ayahnya menjilati vagina Lia dan sesekali memasukkan lidahnya ke lobang vagina Lia. Menurut Lia, saat itu ia kembali menemukan kenikmatan yang lebih dari sebelumnya. Permainan lidah di vagina benar-benar membuat Lia membuat vagina Lia basah –bukan semata karena air liur Ayahnya, tetapi memang karena dinding vaginanya mengeluarkan cairan sendiri.

Pada saat Lia mulai menemukan kenikmatannya, Ayahnya berdiri di sisi tempat tidur dan mengacungkan penisnya yang telah berdiri tegak ke lobang vagina Lia. Lia membentangkan kedua kakinya berusaha membuka lebar vaginanya, agar penis besar itu bisa masuk ke lobang vaginanya yang masih perawan.

“Sayang! Jika Lia merasa sakit, tahan saja dulu ya! Karena sakitnya hanya sebentar saja.”

“Ya Ayah!” Demikianlah kata terakhir dari mulut Lia sebelum akhirnya penis Ayahnya menjejal masuk ke lobang vagina Lia yang kecil. Benar saja! Vagina Lia seakan dipaksa menganga saat kepala penis Ayahnya mulai masuk ke lobang vaginanya. Perasaan sakit itu memang ada, tetapi bukan seperti sakitnya terluka. Sakit yang Lia rasakan adalah sakit karena harus menerima sesuatu yang besar masuk ke vaginanya.

Ayahnya memang tidak terlalu terburu menenggelamkan penisnya ke lobang vagina Lia. Ia sepertinya mengerti bahwa vagina Lia memang bukan musuh untuk penisnya. Tarik sorong terus dilakukan Ayahnya di vagina Lia, hingga akhirnya penis itu berhasil memperawani Lia, anaknya kandung sendiri di usianya yang baru 10 tahun.

Selanjutnya dengan perlahan, penis yang telah tenggelam penuh di vagina Lia itu ditariknya keluar hingga hanya tinggal kepala penis yang masih berada di dalam, kemudian dimasukkannya kembali sampai pangkal. Semakin lama permainan penis di vagina Lia yang dilakukan di sisi tempat tidur itu berjalan semakin cepat. Lia pun tidak lagi merasakan sakit setelah permainan penis itu berlangsung beberapa saat. Lia merasakan kenikmatan yang luar biasa di setiap gesekan penis Ayahnya di dinding lobang vaginanya, hingga akhirnya Ayahnya mencabut penisnya dan menyemprotkan sperma ke perut Lia.

Kesan pertama begitu menggoda… begitulah yang Lia rasakan dengan permainan seks Ayahnya. Sehingga pada malam-malam berikutnya, Lia lah yang meminta melakukan hubungan itu. Berbagai macam gaya, akhirnya mereka coba. Terkadang Lia di atas, duduk di atas penis Ayahnya. Kadang Lia di bawah menerima hantaman dari penis Ayahnya yang besar panjang dan keras.

Kejaidan itu terus berlangsung, karena kebodohan Lia yang saat itu mengerti belum mengerti arti hubungan intim. Menurutnya itu adalah salah satu usahanya untuk bisa menjadi seperti Ibunya sepenuhnya. Sampai akhirnya, ia menyadari bahwa hubungan intim yang biasa dilakukannya dengan Ayahnya adalah sesuatu yang tidak normal.

Lia menyadari ini saat ia duduk di bangku kelas 1 SMP, dari berbagai kasus serupa yang dilihatnya di TV. Dalam beberapa kasus yang dilihatnya, sang Ayah ditangkap karena dianggap melakukan pencabulan pada anaknya. Namun demikian, Lia masih tidak berani menanyakan hubungan rahasia yang telah dilakukannya dengan Ayahnya selama beberapa tahun ini. Di sisi lain lain, ada  saatnya ia merasakan dorongan birahi dari dalam dirinya yang membuatnya ingin melakukan hubungan itu. Hingga akhirnya, Lia pasrah dengan rahasia hubungan yang tidak normal antara ia dan Ayahnya terus berlangsung hingga saat ia menceritakan kisah ini padaku.

Lia berharap aku bisa menggantikan Ayahnya, bukan dalam arti menggantikan fungsi sebagai orang tuanya, melainkan sebagai seseorang yang dianggap normal untuk melakukan hubungan intim seperti yang biasa dilakukannya dengan Ayahnya. Bagaimana hubunganku dengan Lia saat ini, mungkin bisa dikatakan teman dekat, tetapi kami tidak memegang konsekuensi apa-apa. Kami hanya menikamati seks sebagai sebuah dorongan hasrat, tetapi bukan karena Cinta…

Maafkan aku, Lia..!!
By: Indra

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: