Adik Kecilku, Perawanku

Dikirim oleh: Hendra di Semarang

Cerita ini ku tulis dan ku kirim ke admin blog ini, dengan persetujuan adikku. Dengan catatan tidak mengungkapkan nama dan tempat sebenarnya. sebut saja namaku Hedra dan nama adikku, Bunga (bukan nama sebenarnya pastinya…!!). Cerita ini adalah hubungan cinta tidak wajar antara aku dan Bunga, karena kami saudara kandung. Namun sejak awal ini terjadi, kami merasa cocok dan merasa saling memerlukan, terutama ketika hasrat ingin bercinta menggoda pikiran kami.

Wild Life Imagination
Adikku Perawan

Beda usiaku dengan Bunga, adikku, adalah 6 tahun. Sejak kecil aku dan Bunga memang sudah sangat akrab, karena Bunga lebih banyak tumbuh dan berkembang di dekatku daripada dengan orang tua kami. Kisah kami ini bermula ketika aku lulus SMA, dan Bunga lulus SD. Aku berniat melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi Negeri di Ibukota propinsi, yang jaraknya lumayan jauh dari rumah tempat tinggalku.  Hal ini mengharuskan aku berpisah dari rumah orang tuaku dan mencari rumah kontrakan atau kost di Semarang.

Keadaan ini ternyata membuat Bunga sedih. Ia benar-benar merasa sangat kehilangan kakaknya yg sudah begitu akrab dengannya. Akupun juga sebenarnya demikian, namun mau bilang apa? aku tidak mungkin kuliah pulang pergi ke rumah orang tuaku yng berjarak sekitar 100 Km dari kampusku. Orang tuaku berhasil menenangkan Bunga dengan mengatakan bahwa Kakak akan selalu menjenguknya setidaknya sebulan sekali. Bunga yang masih tergolong anak kecil pun akhirnya bisa tenang.

*****

Singkat cerita, sudah sekitar 3 bulan aku tinggal di rumah kontrakan dekat kampusku. Bunga juga sudah melanjutkan sekolahnya di sebuah SMP di kota tempat tinggalku. Sesuai dengan harapan dan janji orang tuaku kepada Bunga, aku selalu pulang kampung setiap bulan. Tetapi pagi itu, Mamaku menelponku dan mengatakan akan memindahkan sekolah Bunga ke Semarang, di sebuah SMP yang juga tak jauh dari rumah kontrakan tenpatku tinggal.

Mendengar berita itu, aku merasa senang, dan sekaligus merasa ada beban yang harus aku tanggung atas adikku. Jika selama dengan orang tuaku, aku tidak pernah memikirkan mencuci pakaiannya, aku tidak pernah memikirkan untuk membuatkan sarapan pagi untuknya, dan rutinitas lainnya yang biasa dilakukan orang tuaku, kini itu akan menjadi kewajibanku terhadap Bunga, adikku. Tapi melihat pandangan orang tuaku, Bunga memang lebih baik berkumpul dengan kakaknya. karena mereka melihat Bunga tidak terbiasa berpisah denganku. Menurut mereka, Bunga terlihat sedih, ia kesepian, tak ada teman bicara dan bercanda jika ada di rumah, tak ada teman ngobrol saat menonton TV. Ku maklumi, memang sejak kecil, Bunga sudah sangat akrab denganku. Akupun suka sekali di dekat Bunga, karena ia anak yang pintar, cerdas dan periang.

Akhirnya, hari itu aku luangkan waktuku untuk beres-beres rumah, karena orang tuaku akan datang mengantarkan Bunga ke kontrakanku. Namanya juga rumah kontrakan, ruangan kecil dengan satu kamar tamu, kamar belakang yang kujadikan ruang tidur, dan dapur yang langsung terhubung dengan kamar kecil. Jadi aku harus menatanya untuk dua orang. Belum lagi dengan barang-barang keperluan adikku nanti, pastinya akan menambah kecil ruang gerak di rumah kontrakanku ini. Tapi tak apalah! Sekedar untuk tempat bernaung dari panas dan hujan dan melepas lelah, kecil tak jadi masalah. Tujuan kami ke sini pada dasarnya juga bukan untuk diam dan menetap di sini. Ini hanya tempat tinggal sementara kami menuntut ilmu jauh dari orang tua.

Siang itu juga, tak seberapa lama setelah aku beristirahat dari membersihkan rumah, Bunga dan kedua orang tuaku tiba di kontrakanku. Terlihat wajah lelah mereka seakan sirna ketika masuk pintu depan rumah kontrakanku, terutama Bunga. Ia berteriak memanggilku dan melompat ke pelukanku. Rupanya tadi mereka langsung ke SMP tempat Bunga akan meneruskan sekolahnya. Setelah istirahat beberapa saat sambil berbincang ringan, Sore itu orang tuaku langsung balik ke kota tempat tinggal kami. Mereka juga menitipkan Bunga bersamaku beserta beberapa pesan untukku untuk menjaga Bunga dan mengawasi pelajarannya. Mau tidak mau, aku harus menerima tanggung jawab itu, karena Bunga adalah adikku. Sementara Bunga, ia tidak begitu memperhatikan nasehat dan pesan orang tua kami. Ia hanya senyum dan mengiyakan pesan-pesan Mama. Ia hanya memikirkan, di sini ia bisa kembali bersamaku, Kakaknya yang dia sayangi.

*****

Di sinilah hubungan tak wajar antara aku dan Bunga bermula. dari sore hingga malam, kami hanya membereskan rumah, menyusun barang-barang bawaan Bunga di tempat-tempat yang seharusnya.  Malam itu sekitar pukul 20.30 malam. Aku memutuskan untuk menghentikan kegiatan kami. Sisanya biar besok siang saja dilanjutkan. Aku berpikir untuk mandi dan membersihkan diri, karena sudah seharian aku beres-beres, rasa gerah dan kotor ku rasakan di setiap bagian tubuhku.

Ku ambil handuk, dan kulilitkan di pinggangku untuk sekedar menutupi bagian kemaluanku, dan beranjak ke kamar mandi yang hanya berpintukan tenda kain. Saat aku mandi malam itu, dengan hanya diterangi oleh lampu bohlam 10 watt, aku jadi kepikiran untuk onani. Sambil menggosok dan membersihkan tubuhku dengan sabun mandi, aku akhirnya juga menyertakan mengosok kemaluanku yang sudah mulai tegang dengan sabun mandi. Di antara keasyikanku dengan aktifitas onaniku di kamar mandi, tiba-tiba aku dikejutkan dengan teriakan Bunga di pintu kamar mandi.

“Kakaaak! aku ikut mandi ya!!!” maksud Bunga mungkin memang hanya untuk mengejutkanku yang begitu asyik mandi, tetapi seketika itu juga Bunga terkejut, karena dihadapannya ada tubuh seorang lelaki yang bugil dengan penis yang sudah sangat keras mengacung. Apalagi ketika melihat aku yang begitu menikmati aktivitas onaniku, akhirnya terbalik, sekarang Bunga yang terkejut menyaksikan sesuatu yang mungkin baru pertama kali dilihatnya.

“Bunga! Kenapa kesini? Kamu ga lihat Kakak lagi mandi?”

“Maaf, Ka!” Setelah mengucapkan kata maaf itu, Bunga berlalu dari kamar mandi. Sementara aku tidak bisa lagi meneruskan onaniku, karena malu dan tak tahu materi apa yang harus akan ku bicarakan dengan Bunga untuk mengalihkan rasa maluku ini. Aku hanya berpikir itu urusan nanti, yang penting ku selesaikan acara mandi malamku meskipun dengan hasrat yang kesampaian.

“Sana mandi! Udah seharian ga mandi kan?” Kataku pada Bunga setelah aku keluar dari kamar mandi. Seketika itu pula Bunga membawa handuknya menuju kamar mandi. Aku berpikir, Bunga masih anak kecil, ia pasti tidak mengerti arti onani atau masturbasi, apalagi masalah hubungan seks.

Belum lagi aku selesai berpakaian, tiba-tiba Bunga muncul lagi di hadapanku. Dia menatapku dengan wajah memelas. Dengan sedikit mengerutkan keningku, ku coba bertanya:

“Ada apa lagi, Bunga?”

“Temani Bunga mandi, Kak! Bunga takut di kamar mandi sendiri…”

“ya ampun, Bunga!!! kamu kan sudah besar, masa masih ditemani Kakak sih?”

‘Iya! inikan rumah baru buat Bunga, lagian Bunga ga biasa mandi malam, lampunya juga ga terang….”

‘Ya sudah! Kakak temani… Sana ke belakang duluan, nanti Kakak nyusul. Kakak ganti baju dulu…”

Terlihat senyum kecil di bibir Bunga yang mungil, dan kembali beranjak dari tempat ia berdiri untuk ke kamar mandi. Sementara itu, aku bergegas mengenakan pakaianku, untuk menyusul ke belakang menemani adik kecilku mandi. Dari ruang tengah ini, aku bisa melihat tenda di kamar kecil tidak di tutup, kain penutup pintu kamar mandi terlihat digantungnya di sisi pintu. Itu artinya, aku memang harus ada di dekatnya untuk menemani aktivitas mandinya malam ini.

Setelah aku mengenakan baju dan celanaku, aku langsung ke belakang untuk menjemur handukku sekalian menemani Bunga mandi. Betapa terkejutnya aku, ketika tiba di depan pintu kamar mandi, Bunga sedang menggosokkan sabun di sekujur tubuhnya yang ternyata tidak ditutupi oleh sehelai kainpun. Aku hanya diam terpana, keinginan untuk bertanya ku urungkan karena ada semacam kekaguman melihat sesosok tubuh wanita kecil yang sedang bugil. Rambut sebahunya yang basah, tubuhnya putihnya yang berisi, payudaranya yang mulai tumbuh, serta permukaan bagian vaginanya yang terlihat menggembung dan belum ditumbuhi bulu. Aku merasakan sebuah birahi tersembunyi mulai berdesir ditubuhku, batang penisku pun sepertinya mengerti hasrat ini, ditambah lagi gagalnya pencapaian klimak dalam aktivitas onaniku tadi menambah kuat dorongan birahiku.

Hal yang lebih mengejutkanku adalah Bunga sepertinya juga melakukan aktivitas masturbasi di sela aktivitas mandinya, tetapi dia sepertinya tidak malu melakukannya meskipun aku ada dan mengawasi aktivitas mandinya. Aku melihat ia menggerakkan telapak tangannya di kemaluannya dan sepertinya ia memainkan jarinya di belahan vaginanya. Jantungku berdebar kencang, aku ingin menegurnya, tetapi entah kenapa aku seakan tak sanggup untuk mengatakannya. Gejolak antara perasaan seorang Kakak yang tak seharusnya membiarkan adiknya melakukan kesalahan, dan perasaan seorang laki-laki yang sedang terbius birahi, membuatku bingung untuk bertindak.

Aku terus saja membiarkan adikku melakukan masturbasi di hadapanku, sementara dia juga sepertinya begitu menikmati aktivitas masturbasinya. Semakin lama, ia semakin cepat memainkan jarinya di belahan vaginanya, dan bahkan terlihat akan mencapai klimak. Dalam kebingunganku antara perasaan seorang Kakak yang harus mengarahkan adiknya dan perasaan seorang pria yang sedang dilanda birahi, akhirnya dari ruang bawah sadarku, sebuah kata keluar dari mulutku:

“Bunga!” demikian panggilku setengah berteriak. Bunga tersentak dan menatapku tajam penuh tanya. Melihat Bunga menatap ke arahku dan menghentikan aktivitasnya, aku tersadar bahwa aku baru saja berteriak memanggil namanya. Dalam perasaan keKakakan yang terungkap di bawah alam sadarku kelelakianku, aku bingung memilih kalimat apa yang bagus untuk kuungkapkan pada gadis kecilku yang masih begitu polos ini. disela tatapan diamnya, ku coba menarik nafas panjang dan mengehmbuskannya kembali untuk sekedar memulai berpikir cepat dalam memilih kata. Aku beranjak dari tempat ku berdiri mengawasinya dan melangkah mendekati Bunga, kemudian aku duduk di depan tubuhnya kecil bugil yang mulai membentuk keindahan wanita, lalu pegang bahunya yang masih berlumur sabun, seraya berkata lembut padanya:

“Bunga! Jangan memasukkan jari ke kemaluan ya!”

“Tidak, Kak!” bantah Bunga dengan cepat.

“Bunga ga memasukkan jari ke kemaluan kok.! Bunga hanya mengosok-gosoknya saja! Bunga masih perawan kok, Kak!”

“Kakak tanya, kenapa Bunga melakukan itu?”

“Enak, Kak!” begitulah jawaban singkat gadis kecilku yang polos ini. ku tatap matanya dalam-dalam. Entah mau marah dan menjelaskan apa maksud kenikmatan yang dirasakannya itu atau membiarkannya saja dengan kepolosannya itu. Sesaat kemudian aku tersenyum, dan ku peluk tubuh kecil berlumur sabun itu. Aku sadar, pakaianku menjadi basah dengan memeluk Bunga, tetapi entah dorongan dari mana, aku membalik tubuh Bunga dan memeluknya dari belakang. Tangan kananku ku tempelkan di payudaranya yang masih ranum dan hanya memiliki sebuah puting kecil sebagai penunjuk puncak payudaranya, sedangkan tangan kiriku aku lingkarkan di perutnya hingga telapang tanganku menyerusup di sela pahanya. Sebuah tuntutan dari dalam diriku memaksaku untuk memasukkan jari tengahku di belahan vagina Bunga yang sangat sempit, kencang dan kenyal, namun sudah licit dengan busa sabun.

Bunga menerima perlakuanku terhadapnya dan bahkan ia terlihat menikmatinya. Desah nafasnya terasa naik turun mengikuti irama gerakan jariku di belahan vaginanya. kedua tangannya berpegang erat di tanganku yang meremas payudaranya, dan memainkan klitoris yang bersembunyi di belahan vaginanya. Seolah-olah ia memberikan perintah untuk melakukannya lebih kuat. Naluri yang membatin antara kami seakan membuatku mengerti dengan perintah dari hasrat kami masing-masing. Akhirnya, ku coba untuk meremas payudaranya lebih kencang dan sesekali ku ganti antara kedua payudaranya itu.

Kami berdua seolah terhanyut dalam nikmatnya hubungan tak wajar itu. Semakin lama, semakin terlihat bahwa Bunga sangat menikmati perlakuanku hingga akhirnya, tubuhnya mengejang kuat, sehingga beberapa saat kemudian dia memintaku untuk mengehnatikan perlakuanku terhadapnya. Aku mengerti bahwa Bunga sepertinya telah mencapai klimak kenikmatan yang diharapkannya dengan masturbasinya itu. Kemudian ia meneruskan mandinya, sementara aku harus melepaskan pakaianku yang basah dan mengulang kembali mandi malamku.

*****

Setelah Bunga menyelesaikan mandinya, ia pun melilitkan handuknya untuk membalut payudara kecil yang mulai terbentuk di dadanya. Sementara itu, aku harus mengulang kembali mandiku. Bunga beranjak dari kamar mandi menuju ruang tengah. Sambil membersihkan diri, aku berpikir, apa yang telah aku lakukan pada adikku. Dalam diam aku berpikir, apakah ini benar atau salah, aku tidak tahu. Aku terhimpit oleh dua posisi, antara status sebagai Kakak dan sebagai pria dewasa. Hingga aku menyelesaikan mandi malamku, aku tak menemukan jawaban untuk pertanyaan yang membatin itu.

Pikiran-pikiran dan sejuta pertanyaan di kepalaku itu terhenti saat aku baru sadar bahwa aku tidak membawa handuk ke kamar mandi. Ku pangil Bunga untuk minta tolong menganbilkan handuk yang aku gantung di belakang. Ku lihat Bunga yang telah mengenakan BHnya namun masih terbalut handuk melangkah kembali ke belakang untuk mengambilkan handukku. Sesaat kemudian, ia menyerahkan handukku yang masih terasa basah kepadaku.

“Ini, Kak!”

“Ya! Makasih ya!”

“sama-sama!” Jawaban adikku ini ternyata tidak mengakhiri pembicaraan di pintu kamar mandi kali ini. Ia masih terdiam menatapku. Akupun bertanya dalam hati dan hampir menyalahkan diriku atas apa yang terjadi. Satu-satunya kata yang ingin ku ucapkan, jika memang harus, adalah kata “Maaf”. tetapi ternyata yang terjadi tidak seperti yang aku pikirkan. Aku sangat terkejut, ketika sepatah kata terlontar dari bibirnya:

“Kakak ga pingin enak?”

“Maksud Bunga?”

“Ya! maksud Bunga, menyelesaikan masturbasi Kakak!”

“ah! udah ga mud….”

Mendengar jawabanku itu, Bunga menggenggam tanganku dan menarikku hingga ke ruang tengah. Ia kemudian melepaskan kembali handuk yang membalut tubuhnya, sehingga aku bisa melihat bahwa selain telah mengenakan BH, ia juga telah mengenakan celana dalam yang serasi dengan BHnya. Ia berdiri tegak menatap ke arahku, kemudian mendekatiku dan langsung melepaskan handuk yang terbaluk di pinggangku. Kembali tubuhku bugil karena handuk sebagai satu-satunya penutup tubuhnya dilucutinya. Tanpa perintah, ia memegang penisku dan mencoba mengocoknya. Namun karena penisku sudah kering, ia kesulitan mengocok. Dengan beraninya ia tiba-tiba meneteskan air liurnya penisku, sehingga ia bisa lebih mudah mengocoknya.

Sepertinya kondisi sekarang berbalik, sekarang giliran adikku mencoba memuaskanku, setelah sebelumnya ia berhasil menemukan klimaksnya dengan bantuanku. Ku lihat ia terus mencoba merangsangku dengan mengocoknya. Beberapa kali menjatuhnya air liurnya ke penisku karena air liurnya kering dan kesulitan mengocok penisku yang sudah mulai menegang kembali. Tanpa aku sangka, ia kemudian melakukan sesuatu yang diluar dugaanku. Ia justru memasukkan penisku ke mulutnya dan menggoyang-goyangkan kepalanya maju mundur, sehingga penisku terbasahi sempurna.

Apa yang dilakukannya benar-benar telah membuatku melupakan statusku sebagai Kakak kandungnya. Ia terus mengulum penisku, sementara penisku pun terus membesar dan mengeras tegang. Sementara ia melakukan aktivitas itu, kedua tangannya memegang lenganku dan menarikku untuk turun, aku mengikut saja dalam irama birahi yang dimainkannya. Ia menarikku untuk berbaring di tempat tidur, aku terus mengikuti iramanya saja, agar senada. Hingga dalam posisi terlentang di tempat tidur, Dunga kembali mengulum penisku.

Semakin jauh aku masuk ke dalam kenikmatan ini, semakin aku membiarkan jiwa lelakiku yang menguasai tubuhku. Selain irama yang dimainkannya di penisku, jiwa lelaki dalam tubuhnya pun mulai ikut memberikan instrumen yang menambah nikmat birahiku. Aku mulai menggerakkan penisku maju mundur di mulutnya, dan kedua tanganku mulai merengkuh rambut basah di kepalanya. Tak sempat lama aku masuk dalam irama ini, Bunga berdiri dan melepaskan BH dan CDnya. Kemudian ia mengambil posisi yang hanya ada dalam pikiran nakalku. Aku sama sekali tidak menyangka, Bunga akan melakukan permainan ini padaku sebagai Kakaknya. Ia mengambil posisi di atas tubuhku yang berbaring terlentang dan memegang batang penisku yang telah keras menegang dan mengarahkannya ke belahan vagina perawannya itu.

Dalam gelombang birahi yang telah membuatku tak berdaya mengontrol pikiran sehatku, aku hanya membiarkan Bunga mencoba memasukkan penisku ke belahan vaginanya. Entah lobang vaginanya yang masih terlalu sempit, atau hanya masalah kesat saja, sehingga ia belum berhasil melesakkan penisku ke belahan sempit di sela pahanya itu. melihat usahanya itu, dan mengingat birahiku yang sudah tak terkendali, ku tarik lengan Bunga dan membaringkannya terlentang di sisiku. Seketika itu pula aku mengambil posisi di atas, kemudian ku coba membasahi belahan vagina Bunga dengan memainlah lidah dan air liurku di belahan kenikmatan itu.

Ini pertama kalinya aku menjilat vagina dalam hidupku, dan ini pertama kali juga aku menyadari bahwa daging kenyal di pangkal paha adikku ini ternyata telah ditumbuhi oleh bulu kecil. Dalam hempasan birahi yang sudah begitu dahsyat, aku mulai menikmati permainan lidahku di belahan vagina adikku. Dalam dorongan birahi itu pula, aku mencoba membuka belahan sempit itu dengan jari-jari tanganku. Akhirnya aku bisa melihat langsung, seperti apa bagian dalam daging gembul itu melalui belahannya yg ada di sisi bawah.

Aku melihat Bunga, kembali masuk dalam alam birahinya, hengal-hengal nafas mulai mengencang, desah suara rintihan kecil mulai berbisik di bibirnya. Sebelum ia masuk ke lembah klimak, akhirnya aku putuskan untuk berhenti menjilat i vagina Bunga, dan bermaksud mengakhiri permainan ini dengan klimak pada ujung penisku.  Dengan sedikit merubah posisi, aku bentangkan paha Bunga selebar mungkin, dan ku arahkan kepala penisku di belahan vagina mungil yang aku tidak tahu apakah akan muat atau tidak. Dorongan nafsu birahi ini telah membuatku melupakan pikiran-pikiran yang justru hanya akan mengganggu kenikmatan menuju akhir permainan ini.

ku pegang penisku yang sudah menengang keras dan ku elus-eluskan di belahan vagina Bunga, perlahan ku paksakan untuk menyeruak masuk mengendap ke belahan yang masih sangat sempit itu. Terasa jelas vagina Bunga sudah sangat basah, kepala penisku pun semakin mudah bergerak di belahang sempit itu. Terus dan terus ku coba memainkan nada-nada akhir irama permainan birahi ini. Lobang kecil dalam vagina Bunga sudah bisa ku rasakan. Ku coba memasukkan kepala penisku ke dalamnya, meskipun terkesan memaksakan. Perlahan tetapi pasti, akhirnya kepala penisku bisa masuk ke lobang kecil itu. Dengan begitu, aku berpikir bahwa Vagina adikku sudah bisa menyesuaikan dengan ukuran penisku, sehingga aku anggap ia sudah siap dengan akhir permainan untuk mecapai klimak.

Aku posisikan tubuhku agar bisa memberikan tekanan kuat ke lobang sempit itu. Aku paksa untuk terus memasukkan penisku menuju ujung lorong vagina Bunga . Erangan sakit dalam nikmat bisa ku rasakan dari raut di wajahnya dan gerakan tangannya yang mencoba menahan perutku. seketika itu pula aku tarik sedikit penisku dari lobang vagina Bunga, untuk kemudian ku dorong kembali. Semakin lama, batang kemaluanku semakin amblas di lobang kecil yang begitu sempit itu, hingga akhirnya seluruh batang kemaluanku tenggelam dalam lobang kenikmatan itu.

Aku mulai memainkan iramanya, ku tarik penisku hingga hany tertinggal kepala penis yang masik berada dalam vagina Bunga, lalu aku dorong kembali hingga tenggelam sepenuhnya. Semakin lama, tempo permainan semakin ku percepat, semakin cepat dan semakin cepat. Ada sebuah kenikmatan yang tidak pernah ku dapatkan dari beronani, kenikmatan seks yang sebenarnya yang ternyata harus aku awali dengan adik kandungku sendiri yang masih sangat belia.

Titik keringat membasahi tubuhku dan tubuh Bunga, menitik ke seprai tempat tidur mengikuti hentakan-hendakan akhir pencapaian klimaks. Ku peluk erat tubuh kecik adikku sambil terus mempercepat tempo permainan di belahan vaginanya. Berkali-kali Bunga bergetar kejang, apakah itu tanda pencapaian klimaksnya atau hanya ingin memberi nada kenikmatan untukku. Sementara itu, aku mulai merasakan getaran-getaran kuat dalam tubuhku. ku sadari aku akan tidak akan bisa menahan semburan spermaku yang seolah sudah bergumpal di ujung penisku. Dalam kenikmatan yang tak terbayangkan, aku tak sanggup untuk melepaskan penisku dari lobang vagina Bunga yang seakan begitu mesra meremas penisku. Aku terus mengocok lobang vaginanya dengan batang penisku tanpa sempat berpikir akibatnya.

Di ujung pencapaian klimaxku, ku tidak bisa lagi merasakan apa-apa. Yang ada dalam pikiranku, aku harus mencapai titik kepuasanku dan mengakhiri permainan ini di dalam lobang vagina adikku. Hingga akhirnya tekanan yang terasa sudah begitu menggumpal di pangkal penisku, mulai bergerak cepat menuju ujung penisku, seiring dengan itu aku hendakkan peniskku agar tenggelam sempurna di lobang vagina Bunga. Dalam hentakan terakhir itulah akhirnya air spermaku menyembur di ujung kepala penisku yang tenggelam sempurna di lobang vagina adikku.

Aku terus menekan penisku di posisi terdalam dari lobang vagina Bunga, dan membiarkan semburan-semburan spermaku mengisi ruang dalam vagina Bunga. Sambil kembali mengatur nafas kami yang tersengal, sambil melepaskan lelahnya mencapai puncak kenikmatan, aku merasakan penisku yang masih tenggelam dalam liang vagina Bunga mulai mengecil dan semakin lemas. Dapat ku rasakan bahwa lobang vagina Bunga benar-benar masih sangat sempit bahkan untuk ukuran terkecil dari penisku. Akhirnya, ku lepaskan penisku dari vagina Bunga dan ku hempaskan tubuhku yang lelah dan basah di samping tubuh adikku Bunga yang malam ini menjadi persinggahan pertama pemuas kenikmatan dunia.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: