Menjual Keperawanan Demi Kepuasan

Kiriman dari Irwan di Kupang

Kisah yang aku kirim ini hanyalah imaginasiku. Mudah-mudahan kisah ini bisa diterima oleh admin. Bagi yang mau untuk terus membacanya, saya persilahkan. Bagi yang kecewa dengan pengantar ini, ya tidak apa-apa jua sih! Pada dasarnya, aku hanya mengungkapkan imaginasi liarku terhadap seorang gadis kecil berbadan montok dari keluarga miskin di dekat tempat tinggalku, sebelum akhirnya dia menikah beberapa tahun setelah lulus SD. Anggap saja namanya Misna… (pastinya bukan nama dia yg sebenarnya)

Misna adalah seorang gadis muda yang baru saja lulus SD. Karena masalah ekonomi, ia tidak meneruskan pendidikannya ke jenjang menengah pertama. Kalau dari perawakannya, ia memang tidak begitu cantik, kulitnya terkesan gelap, karena sepertinya fasilitas untuk berdandan tidak bisa dipenuhi oleh orang tuanya. Namun demikian, Misma memiliki postur tubuh yang bisa dianggap melebihi usianya. Bayangkan anak yang baru lulus SD, mungkin usianya baru 12 – 13 tahun, tetapi secara fisik, orang yang mengenalnya sesaat, mungkin akan mengira ia berusia di atas 20 tahun, mungkin ada juga yang akan menebak, ia sudah menikah. Tetapi bagi orang-orang di sekitar komplek ini tahu bahwa ia baru saja melepaskan seragam putih merah beremblem┬áTut Wuri Handayani. Tertipunya anggapan orang terhadap Misna ini bisa jadi disebabkan oleh ukuran beberapa bagian tubuhnya yang jauh di atas standar gadis seusianya. Ukuran Payudara seperti wanita yang sedang hamil 8 bulan, bokongnya besar seperti Ibu yang sudah pernah melahirkan. Jadi, lucu rasanya, dengan tubuh seperti itu, ia masih mengenakan segaram SD.­čÖé

Wild Life Imagination
Menjual Keperawanan Demi Kepuasan

Misna mungkin gadis yang kurang beruntung, karena ia terlahir dari keluarga yang serba tidak berkecukupan. Rumah tempat ia tinggal bersama orang tua dan kedua adiknya yang berusia 4 tahun dan 1 tahun, berada di ujung jalan Gang dan agak terpisah dari rumah warga lainnya, bahkan bisa dikatakan, jalan menuju ke rumahnya bukanlah jalan gang, karena beberapa meter menuju rumahnya adalah jembatan yang tersusun dari pohon Bambu. Rumah mereka hanya berukuran 3×5 meter di Bangun di atas sepetak tanah belukar.

Dalam pikiran kotorku, di ruangan rumah yang sekecil itu, orang tua Misna tidak akan bisa melakukan hubungan suami istri tanpa diketahui oleh anak-anaknya. Bagi kedua adik Misna, mungkin tidak berpengaruh besar, karena mereka masih belum begitu mengerti arti hubungan suami istri, tetapi bagi Misna, hal seperti itu jelas akan menarik perhatiannya dan mungkin akan menjadi tanda tanya di kepalanya, “apa yang sedang dilakukan kedua orang tuanya?”­čÖé Aku bahkan sempat berpikir, terjadinya perubahan fisiknya yang berbeda dari kebanyakan anak seusianya, karena ia juga telah dilibatkan oleh orang tuanya dalam hubungan seks terlarang di dalam rumah kecil tersebut, untuk mencari sebuah sensasi dalam hubungan seks pasangan suami istri. Hanya saja kepolosan Misna membuatnya secara tidak sadar sudah pernah terlibat dalam hubungan seks tak wajar. (Mungkiiiin…!!!! ini hanya tebakanku saja…)­čÖé

*****

Pemikiran ekstremku tentang gadis miskin yang ada di dekat komplek tempat tinggalku itu, pada suatu ketika, ku sampaikan pada Rony teman kuliahku yang isi otaknya tidak terlalu jauh beda denganku, hanya saja ia anak orang kaya, sehingga dengan sedikit mengocek isi dompetnya, atau hanya dengan memperlihatkan kartu kreditnya, ia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Tak disangka dan tak diduga, pemikiran kotorku tentang keluarga Misna berbuah sambutan hangat dari Rony. Ia malah mengajakku menemui Misna untuk membayarnya mahal jika mau melayaninya bercinta di rumah Misna sendiri. Aku tak menyangka, sambutan Rony akan seperti itu. Sekotor-kotornya otakku, aku masih memikirkan akibat yang mungkin akan ku terima jika pemikiran kotor itu diwujudkan dalam nyata. Rony terus mendesakku untuk mau mempertemukannya dengan Misna dan memanfaatkan kemiskinannya. Gara-gara mengungkapkan tentang pemikiran-pemikiran kotor di otakku kepada Rony, malah aku sendiri yang kerepotan jadinya…

Setiap kali bertemu Rony, ia terus saja mendesakku untuk mempertemukannya dengan Misna, si gadis kecil, bertubuh dewasa. Setiap kali itu pula aku berusaha untuk menolaknya dengan alasan aku malu, jika ternyata dugaanku salah. Tetapi ia terus saja mendesakku dengan cara lain yang berakibat ringan padaku. Aku tetap berusaha menolaknya, hingga akhirnya aku putuskan untuk membantunya dengan sedikit catatan kecil di bagian bawah, “Apapun yang terjadi, jangan libatkan aku, Ron..!!!”┬áTanpa berpikir panjang,┬áRony menyetujui persyaratanku itu.

*****

Hingga tibalah saat yang direncanakan…..

Sepulang dari kuliah, Rony ikut ke rumahku dengan alasan mengerjakan tugas kuliah yang kebetulan filenya ada di komputerku. Orang tuaku juga memang sudah mengenal Rony, sehingga keberadaannya dan rencana yang sedang kami jalankan tidak tertebak oleh mereka. Sore itu, aku dan Rony hanya diam di kamarku untuk memberikan kesan kami memang mengerjakan tugas kuliah.

Pada saat menjelang makan malam, Rony minta izin pulang pada Ibuku, tetapi Ibuku menahannya.

Kok buru-buru? Kita makan malam dulu, ya Ron? tuh, sudah Ibu siapkan di meja makan…” kata Ibuku.

Iya deh, Bu!” Itulah jawaban Rony menerima tawaran makan malam Ibuku yang sebenarnya sudah kami rencanakan, agar Rony terlihat tidak ingin pulang larut, namun menjadi lebih larut karena harus memenuhi tawaran makan malam dari Ibuku terlebih dahulu.

Sekitar jam 20.00 malam, tak seberapa lama setelah perbicangan ringan di ruang tamu selepas makan malam, Rony kembali minta izin pada Ibuku untuk pulang, tetapi kali ini ia minta izin untuk mengajakku menginap di rumahnya. Tanpa curiga sedikitpun, Ibu mengizinkan aku untuk menginap di rumahnya. Untuk itu aku kembali ke kamarku untuk sedikit berkemas beberapa pakaian untuk menginap di rumah Rony dan memasukkannya ke dalam ransel kecil yang biasa ku pakai ke sekolah. Setelah selesai berkemas, aku juga minta izin pada Ibu bahwa besok aku langsung ke kampus dari rumah Rony. Ibu pun mengizinkan dan tidak sedikitpun menaruh curiga pada apa yang akan kami lakukan malam itu.

Dengan mobil Honda jazz hitam milik Rony, kami meninggalkan rumah orang tuaku untuk memulai apa yang telah kami rencanakan. setelah berjalan beberapa blok, aku memandu Rony untuk membelokkan mobilnya ke kanan dan masuk ke sebuah blok di mana Risna tinggal. Tepat di depan sebuah Gereja kecil, aku meminta Rony untuk memarkirkan mobilnya. Selanjutnya, ku pandu dia melalui seluler untuk memasuki Gang kecil yang berada tak jauh dari Gereja tersebut.

Setelah Rony menemukan dan yakin posisi rumah Risna sesuai panduanku, dia menutup telponku. Sementara itu aku hanya bisa menunggu di Mobil berkaca gelap itu dengan harap-harap cemas, apakah rencana kami akan berjalan lancar atau justru sebaliknya. Dalam perasaan yang tidak menentu, ku putar musik mp3 yang sudah tersedia di mobilnya. Dinginnya AC sepertinya juga tidak bisa membuatku nyaman menunggu sesuatu yang mungkin akan terjadi padaku dan Rony.

*****

Sekitar 30 menit, aku menunggu di dalam mobil dengan perasaan gelisah tak menentu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah ketukan di pintu mobil. “Tok! Tok! Tok!” ternyata Rony sudah kembali ke mobil tanpa ku sadari. Melihat dari raut mukanya, sepertinya kekayaannya kembali berhasil memuluskan jalan dari rencana kami. Rony masuk ke mobil dan mengatakan bahwa kami akan jalan-jalan dulu dan kembali ke sini menjelang tengah malam. Lampu depan Honda jazz itu menyala dan kami memutar mobil ke luar komplek untuk jalan-jalan, menghilangkan kebosanan di saat harus menunggu moment yang memang sudah kami rencanakan.

Dalam perjalanan itulah kemudian Rony bercerita, bahwa dia telah menjanjikan uang senilai Rp.1.000.000,- kepada orang tua Misna untuk menghargai keperawanan anak mereka yang bernama Misna itu. Rony juga menjanjikan Rp.1.000.000,- lagi kepada mereka, apabila mereka mau terlibat dalam pesta pelepasan keperawanan Misna. Ternyata, Rp.2.000.000,- bagi keluarga ini, adalah nilai yang sangat besar untuk menghargai arti sebuah keperawanan anak sulung mereka.

Dalam pertemuan pertama itu Rony telah menguras Rp.500.000,- dari dompetnya. Rony memberikan uang cash Rp.200.000,- karena Misna mau memenuhi permintaannya melepaskan seluruh pakaiannya di depan Rony dan kedua orang tuanya. Uang Rp.200.000,- itu ditarohnya di belahan vagina Misna. Selain itu, Rony juga meminta kepada kedua orang tua Misna untuk mempertontonkan hubungan seksual di depan Rony dan Misna, dan menjanjikan uang Rp.300.000,- lagi mereka mau melakukannya. Menurut cerita Rony, kedua orang tua Misna mau melakukan itu, jika pembayarannya di depan. Tanpa pikir panjang, Rony memberikan uang Rp.300.000,- itu pada mereka, dan juga tanpa pikir panjang, kedua orang tua Misna pun melepaskan seluruh pakaian mereka dan melakukan hubungan suami istri di depan mata Rony dan Misna. Sebelum meninggalkan rumah itu, Rony membisikkan pada Misna, bahwa dia akan kembali menjelang tengah malam dengan uang dalam jumlah yang lebih besar untuk melakukan apa yang dilakukan kedua orang tuanya. Begitulah cerita Rony kepadaku dalam perjalanan kami menyusuri jalan menunggu moment yang dinantikan.

Di depan sebuah Mini Market, Rony memarkirkan mobilnya dan beranjak keluar menuju sebuah ATM. Setelah dia keluar dari pintu ATM, dia masuk ke Mini Market tersebut. Beberapa saat kemudian dia keluar membawa sebuah bungkusan kantong plastik. Mungkin dia memberi beberapa keperluan untuk malam ini.

*****

Beberapa menit menjelang pukul 11 malam, kami telah kembali ke komplek di dekat tempat tinggalku dan kembali memarkirkan Honda Jazz hitam itu di depan sebuah Gereja kecil dalam komplek tersebut. Kami tinggalkan mobil Rony di depan gereja, agar orang tidak tahu bahwa tujuan kami adalah sebuah Gang yang berada tak jauh dari gereja tersebut.

Sesampainya di depan rumah Risna, Rony langsung mengetuk pintu rumah kecil tersebut dan terdengar suara dari dalam rumah yang bergeas membukakan pintu. Setelah pintu depan rumah itu terbuka, muncul seorang pria separuh baya yang tak lain adalah Ayahnya Risna yang langsung mempersilahkan kami masuk dengan suara agak berbisik. Rony langsung membimbingku untuk ikut masuk, dan Ayah Misna pun langsung menutup dan mengunci pintu rumahnya.

Ini adalah pertama kalinya aku memasuki rumah┬áMisna. Ruangannya yang hanya berukuran 3×5 meter dibagi menjadi dua, ruang depan dan ruang tidur yang hanya dibatasi dengan terpal tipis berwarna biru. Dinding rumah mereka terbuat dari kayu yang tidak tersusun rapi. di beberapa bagian terlihat sudah rapuh, dan di beberapa bagian lainnya terlihat tempelan papan yang sepertinya berpungsi untuk menambal bagian yang berlobang. Atap rumah mereka hanya terbuat dari anyaman daun kelapa. Tidak ada satupun hiasan yang menempel di dinding rumah mereka.

Di saat aku sedang asyik mengawasi ruangan sempit dalam rumah Misna, tiba-tiba Ayah Misna berbisik kecil kepadaku:

“Jagalah rahasia ini untuk kita saja!” Begitulah bisiknya kepadaku.

“Iya, Pak!” jawabku agak terkejut dengan permintaan tersebut. Rupanya Rony juga sudah menceritakan bahwa selain dia, aku juga akan ikut dalam pesta malam itu.

Rony membuka bungkusan plastik yang berisi beberapa keperluan pesta yang dibelinya di Mini Market tadi. Sebuah pengharum ruangan semrot langsung dikeluarkannya dan disemprotkan ke seisi ruangan. Rony juga membeli sebuah lampu neon, dan meminta Ayah Misna untuk mengganti lampu bolam yang ada di ruangan tersebut. Selanjutnya, ia mengeluarkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi beberapa set pakaian dalam wanita. Rony menyerahkan itu kepada Ayahnya Misna untuk dikenakan anaknya. Dan terakhir, Rony mengeluarkan kamera digitalnya dan menyerahkan kepadaku dan memintaku untuk mereka sebaik mungkin setiap moment dalam pesta seks kecil malam itu.

*****

Rony memintaku untuk menyalakan kamera digital dan mulai merekam setiap moment pesta seks di rumah kecil ini. Cahaya lampu neon yang baru saja dipasang seolah memperjelas gambar yang ditangkap oleh kamera digital Rony ini. Aku mulai merekam dan mengarahkan fokus pada Rony, namun Rony memintaku mengarahkan kamera ke dalam ruangan. Pesta malam ini dimulai dengan kemunculan Misna yang hanya mengenakan CD&BH yang baru saja diberikan oleh Rony. Misna terlihat sangat seksi dengan pakaian itu. Rambut panjang sebahunya terlihat masih basah. Kemungkinan dia sengaja mandi untuk pesta seks malam itu.

Melihat Misna yang sudah siap berpesta, Rony pun melepaskan seluruh pakaiannya dan berdiri di depan Misna untuk selanjutnya meminta Misna untuk mengulum penisnya yang sudah terlihat keras. Misna hanya menurut saja. di kulumnya penis Rony dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat, Rony meminta Misna untuk berbaring di sebuah kasur usang yang mereka miliki. Rony menarik CD yang dipakai Misna dengan perlahan. Terihat jelas melalui kamera digitalku permukaan vagina Misna yang mulai ditumbuhi oleh bulu-bulu kecil, seta belahan vagina yang masih sangat rapat. Setelah CD Risna terlepas sempurna, Rony langsung mengarahkan penisnya ke belahan vagina Misna, dan berusaha menjejalkan penisnya ke sela belahan tersebut.

Terlihat jelas bahwa belahan vagina itu memang belum pernah menelan benda tumpul milik pria. Berulang kali Rony berusaha menekan, bukannya berhasil menerobos, namun yang terekam hanyalah suara erangan kecil di bibir Misna yang terlihat menahan perih. Dengan kedua tangannya, Rony berusaha membuka belahan vagina Misna untuk mempermudah penisnya masuk, namun tetap tidak berhasil. Sambil terus merekam, ku katakan pada Rony untuk membasahi bibir vagina Misna dulu. Rony menuruti permintaanku, dan mulai mengarahkan kepalanya ke selangkangan Misna dan menjilati belahan vagina Misna.

Aroma birahi sedikit demi sedikit mulai tercium. rintihan kenikmatan yang keluar dari mulut Misna mulai terdengar dan semakin menambah indah gairah seks di ruangan kecil ini. Dingin malam yang semakin menusuk, membuatku juga ingin ikut merasakan kenikmatan tubuh Misna. Penisku semakin menegang dan rasanya camera digital ini mau ku serahkan saja pada orang lain. Tapi aku ikut saja dalam permainan Rony, seperti apa susunan acara pesta malam ini.

Dalam fokus zoom kamera digital, terlihat jelas bahwa belahan vagina Misna telah basah oleh air liur Rony, seketika itu pula ku berikan isyarat kepada rony untuk memulai kembali aksi sebelumnya yang tidak berjalan mulus. Rony mengerti dengan isyarat itu dan dia kembali mengarahkan penisnya ke belahan vagina Misna yang telah basah kuyup. Dengan perlahan, Rony mulai menjejalkan kembali kepla penisnya ke lobang di bagian bawah belahan vagina Misna. Terekam oleh cameraku, kepala penis Rony telah berhasil membelah permukaan vagina Misna. Dengan perlahan Rony terus menekan batang penisnya menerobos lobang vagina Misna. Sedikit demi sedikit batang penis Rony mulai tenggelam di vagina Misna hingga akhirnya ia berhasil menyentuh sisi terdalam dari lobang vagina Misna dan diiringi oleh desah kenikmatan di bibir Misna.

Rony membiarkan penisnya amblas di vagina Misna beberapa saat lamanya. Sementara itu, ia meminta Misna untuk melepaskan BHnya. Risna hanya menurut saja, setiap permintaan Rony tersebut. Setelah Misna bugil tanpa sehelai kain pun menutup tubuhnya, Rony mulai memainkan lidahnya dengan payudara Misna yang besar dan sangat montok. Sementara itu, salah satu tangannya meremas-remas payudara Misna yang satunya. Terekam di kameraku Rony mulai memainkan pantatnya menarik penis keluar dari lobang vagina Misna dan memasukannya kembali. ku ambil posisi dari bawah selangkangan Misna untuk mereka moment itu. Semakin lama, gerakan keluar masuk penis Rony di lobang vagina Misna itu semakin cepat.

Setelah beberapa lama ia melakukan aktivitas itu, Rony mengeluarkan penisnya dari lobang vagina Misna. Ia berdiri dan mengambil kamera digital dari tanganku. Kali ini, ia memintaku untuk melepaskan pakaianku dan menggantikan posisinya untuk menggauli Misna. Dengan senang hati, aku melakukan permintaannya itu, karena memang itu yang sudah aku tunggu-tunggu dari tadi. penisku sudah terlalu keras untuk hanya sekedar melihat Rony menikmati vagina Misna.

Sementara itu, Rony ternyata juga meminta Ayah Misna untuk memanggil istrinya yang masih berada di ruang belakang menidurkan kedua adik Misna. Beberapa saat kemudian, kedua orang tua Misna keluar. Rony meminta mereka untuk juga melepaskan seluruh pakaian mereka. Dengan janji dan iming-iming uang Rp.2.000.000,- mereka dengan suka rela mengikuti semua permintaan Rony. Selanjutnya, Rony meminta Ibu Misna untuk berbaring dengan posisi yang sama di samping Misna, dan meminta Ayah Misna untuk menyetubuhi istrinya.

Terlihat dihadapanku, dua tubuh bugil –Misna dan Ibunya– mengangkang tanpa busana, siap untuk dinikmati. Sementara disampingku, juga berdiri Ayah┬áMisna yang sedang melepaskan satu persatu pakaian yang menempel di tubuhnya. Rony benar-benar ingin berpesta dengan keluarga┬áMisna malam ini. ku lihat Ayah┬áMisna telah memasang posisi duduk di antara paha istrinya dan mulai mengarahkan penisnya ke lobang vagina istrinya yang ditumbuhi bulu yang sangat lebat. Beberapa saat kemudian, ia mulai memainkan penisnya keluar masuk di lobang vagina istrinya.

Seakan tertegun melihat pemandangan itu, tiba-tiba Rony menegurku dan memintaku untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang tua Misna. Tanpa berpikir panjang, ku lepaskan seluruh pakaianku hingga tak ada sehelai benangpun yang tersisa. Kemudian ku posisikan penisku menghadap belahan di selangkangan Misna. Saat aku berniat memasukkan penisku ke lobang vaginanya, tiba-tiba aku melihat sebercak darah segar di sela belahan vagina Misna, yang membuatku berpikir bahwa Rony telah lebih dulu mengambil keperawanan gadis berusia di bawah umur ini. Namun demikian, aku tidak terlalu mengindahkan darah perawan yang mengalir di vagina Misna. Birahi yang sudah begitu berat tak tertahankan seakan lebih berkuasa pada diriku malam itu.

Dengan sedikit tekanan, aku bisa dengan mudah memasukkan kepala penisku ke lobang vagina Misna, sampai akhirnya penisku berhasil amblas di lobang itu. Keperawanan Misna memang sudah diambil oleh Rony, namun kenikmatannya lobang yang masih sangat sempit itu masih di sisakannya untukku. Dengan gerakan naik turun, aku nikmati setiap gesekan penisku di dinding vagina Misna. Semakin lama semakin semakin nikmat. Bibir Misna pun tak henti-hentinya membisikkan birahi ke dalam pikiranku. Setelah beberaapa saat aku memainkan penisku di lobang vagina Misna, ku rasakan lobang itu semakin basah, sehingga pergerakan penisku menjadi semakin mudah.

Sementara itu di sampingku, Ayah Risna terus menggencot vagina istrinya, seakan mengajakku untuk berpacu menuju puncak kenikmatan. Aku tak perduli dengan pemikiran itu, karena yang ku rasakan saat itu hanyalah desiran-desiran birahi yang terus menekan. Aku juga sudah tak perduli dengan Rony yang dari tadi terus mengambil fokus kameranya kepadaku dan orang tua Misna. Aku hanya terus menggenjot lobang vagina Misna hingga sisi terdalam yang bisa dicapai oleh penisku. Panasnya hawa birahi yang ku rasakan serta sempirnya lobang vagina Misna yang becek semakin membuatku mendekati area puncak kepuasan. Namun pada saat itu, tiba-tina Rony memintaku dan Ayah Misna untuk bertukar posisi.

Meski agak berat bagi Ayah Misna untuk menggauli anaknya sendiri, tetapi ia seperti tidak bisa menolak permintaan itu. Mereka juga sudah terlanjur menanda tangani perjanjian tak tertulis atas pesta seks malam ini. Sementara itu, aku sendiri juga merasa berat untuk menarik penisku dari lobang vagina Misna, karena birahiku sudah hampir mencapai puncaknya. Tetapi sesaat kemudian aku menatap wajah Ibunya Risna yang seakan tak rela membiarkan anak perempuannya harus disetubuhi oleh suaminya sendiri. Ketidakberdayaan sang Ibu itu membuatku berpikir untuk memberikan kepuasan kepadanya agar ia melupakan perasaannya.

Sementara Ayah Misna mulai memasukkan penisnya ke vagina anaknya, aku meminta Ibu Misna untuk berdiri. Selanjutnya aku berbaring dengan posisi terbalik dan meminta Ibu Misna untuk mengambil posisi 69. Memang terlihat agak canggung, tetapi akhirnya, ia bisa memposisikan tubuhnya untuk mengulum penisku. Sementara itu, aku tidak langsung memainkan lidahku di vaginanya, tetapi lebih dulu memainkan clitorisnya dengan jari-jariku. Sesekali ku masukkan jariku ke lobang vaginanya. Aku dapat merasakan besarnya dorongan birahi dan kenikmatan yang dirasakan oleh Ibu Misna dengan gaya 69 ini. Ku rasakan ia tidak bisa konsentrasi mengulum penisku, karena kenikmatan di vaginanya jauh lebih membuatnya terangsang.

Setelah puas memainkan vagina Ibu Misna dengan jariku, aku memeluk bokong Ibu Risna dan menariknya agar vaginanya bisa menempel ke bibirku. Dalam posisi itu, kemudian ku mainlah lidahku untuk membelai lembut clitoris yang tersembul kecil di antara belahan vaginanya. Jelas sekali ku rasakan Ibu Misna telah kehilangan konsentrasinya mengulum penisku. Yang bisa ia lakukan hanya membiarkan penisku dalam mulutnya dan terhengal merasakan sentuhan lidahku di vaginanya.

Sementara aku terus memberikan kenikmatan pada istrinya, Ayah Misna terlihat mulai memasuki putaran terakhir dalam fase pencapaian puncak kenikmatan hubungan. Mungkin karena lobang vagina Misna jauh lebih sempit, makanya dia tidak mampu menahan birahinya yang benar-benar memuncak setelah sebelumnya sudah dimulai di dalam vagina istrinya yang sekarang dalam pelukanku. Tak seberapa lama kemudian, Ayah Misna menarik penisnya keluar dari vagina anaknya dan menyemburkan sperma ke dada Misna. Ia tertegun beberaapa saat menghabiskan sisa-sisa sperma di ujung penisnya, dan selanjutnya menatapku yang masih memainkan lidahku di vagina istrinya dalam posisi 69.

Melihat keadaan itu, Rony menyerahkan kamera digitalnya kepada Ayah Misna dan memintanya untuk merekam moment selanjutnya dalam pesta ini. Dengan sedikit panduan Ayah Misna mulai belajar mengarahkan fokus kamera digital di tangannya. Dengan menyerahkan kamera kepada Ayah Misna, Rony kembali mengambil posisi yang sebelumnya diduduki oleh Ayah Misna, yaitu duduk di sela paha Misna. Tanpa ingin melakukan pemanasan, Rony langsung menghujamkan penisnya ke lobang vagina Misna dan mulai memainkan penisnya di vagina Misna. Pada saat itulah, aku mengakhiri aksi 69ku bersama Ibunya Misna, dan memintanya untuk kembali terlentang.

Setelah Ibunya Misna berbaring kembali dalam posisi terlentang, aku kembali mengambil posisiku di antara selangkangannya dan selanjutnya mulai menghujamkan penisku ke lobang vaginanya. Sebuah pengembaraan seksual mengajarkan bahwa vagina setiap wanita memang memiliki rasa dan aroma masing-masing…­čść Vagina Ibu Misna memang tidak sesempit vagina Misna, tetapi gesekan di dinding vaginanya memberikan sensasi yang luar biasa bagi penisku. Apalagi jika merasakan adanya reaksi balik dari Ibu Misna yang seakan sangat berpengalaman dalam menarik birahiku dalam berhubungan. Ia pandang menggerakkan pantatnya di saat aku menggencot vaginanya, sehingga aku seakan dipaksa untuk mencapai klimak lebih cepat.

Pada saat aku mulai terhanyut dalam kenikmatan menuju puncak, tiba-tiba Ibu Misna mengejang dan lobang vaginanya seakan menjepit penisku. Aku tahu bahwa ia telah mendapatkan puncak kenikmatannya dari permainan penisku di vaginanya. Pada saat itu, aku juga hampir mendapatkan fase terakhir dalam kenikmatan ini. Sehingga aku menggenjotkan penisku lebih cepat di lobang vaginanya, dan pada detik-detik terakhir permainan, ku keluarkan penisku dari vaginanya dan bergegas ke arah Misna serta memintanya untuk mengulum penisku. tak seberapa lama berada di dalam mulutnya, spermaku pun memancar deras mengisi ruang dalam mulut Misna.

Beberapa saat kemudian, Rony pun sepertinya juga memasuki gerbang puncak kenikmatan. Dengan cepat dia cabut penisnya dari lobang vagina Misna dan duduk disamping Misna. Setelah meneteskan sisa-sisa sperma terakhir, maka ku keluarkan penisku dari mulut Misna dan Rony langsung menutup kembali rongga mulut Misna dengan penisnya serta memuntahkan spermanya juga di dalam mulut Misna.

Ayah Misna yang dari tadi terus merekam aktivitas seks kami, terlihat puas dengan berakhirnya permainan ini. Ia menyerahkan kembali kamera digital itu kepada Rony, dan berharap Rony menepati janjinya untuk memberikan uang Rp.2.000.000,- atas pelayanan seks yang mereka berikan malam itu. Tetapi sepertinya Rony belum selesai dengan agenda pestanya.

Ia mengambil kamera digital dari tangan Ayahnya Misna dan mengarahkan fokus kamera ke rongga mulut Misna. Rony meminta Misna menelan sperma yang berada di mulutnya. Meskipun Misna terlihat merasa agak jijik, tetapi akhirnya ia berhasil menelan sperma di mulutnya dan menunjukkan ke lensa kamera Rony bahwa ia sudah menelan sperma yang mengisi mulutnya.

Di antara lelah dan puas selepas mencapai puncak kenikmatan dalam pesta seks ini, Rony meminta Ibu Risna untuk kembali mengulum penis suaminya yang sepertinya sudah kembali siap untuk beraksi. Meskipun merasa agak kecewa karena mengira pesta telah usai, tetapi ia tidak menolak permintaan Rony untuk mengulum penis suaminya. Sementara Ibu Misna mengulum penis suaminya, Rony juga memintanya untuk memainkan jarinya di vagina Misna. Entah permainan apa lagi yang diinginkan Rony, tetapi yang pasti skenario ini telah berhasil membuat penis Ayah Misna kembali berdiri tegak.

*****

Jika ceritanya telah selesai saya posting, maka link “Click disini” akan aktif.­čśÇ

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: