Harga Keperawanan

Pengantar

Tamu-tamu dan undangan satu persatu meninggalkan rumah kami, sehingga aku dan keluargaku sudah bisa beristirahat setelah seharian melayani para tamu resepsi perkawinanku yang datang silih berganti. Ayahku terlihat merapikan ruang depan di bantu Kakak laki-lakiku dan suamiku. Kursi dan meja tamu yang berada di pekarangan, satu persatu kembali mereka masukkan ke dalam rumah. Sementara itu, aku harus membantu Ibu dan beberapa kerabatku yang lain di dapur. Seharian bersanding dan mengikuti setiap detil acara resepsi dan menerima dan melayani tamu yang datang memang membuatku sangat lelah. Melihat kondisiku, Ibu memintaku untuk beristirahat saja.

“Nak! Pekerjaan di dapur biar Ibu dan saudara-saudara kamu yang lain saja yang menyelesaikan. Kamu istirahat saja ya! Siapa tahu siamimu sudah menunggu di kamar.” Demikian kata-kata Ibu kepadaku yang jelas memancing senyum-senyum kecil di bibir orang-orang yang mendengar. Meskipun sebenarnya, malam pertama adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh sepasang penganten baru, termasuk aku, tetapi rasanya aku malu untuk memperlihatkan gejolak jiwa merasakan surga dunia. Rasa malu yang tersimpan itu, sepertinya harus menjadikan pipiku memerah karena kata-kata Ibu yang menggodaku, ditambah senyum kecil di bibir Kakak-kakak perempuanku yang juga mendengarkan kata-kata Ibu itu. Untuk membuang rasa malu yang tak bisa ku sembunyikan, ku peluk dan ku cium pipi Ibuku dan beranjak meninggalkan mereka sambil melempar senyum. Mereka yang melihat tingkahku, sepertinya kembali cekikikan menahan tawa.

*****

Saat aku masuk ke kamarku yang masih berhias pernak pernik dekorasi di sana sini, rasanya aku ingin menghempaskan tubuhku di atas ranjang pengantenku, karena lelah seharian bersanding dan mengikuti acara resepsi, serta melayani para tamu yang datang dari pagi hingga malam ini. Tetapi keinginan itu tertepis karena aku sadar bahwa malam ini adalah malam pertamaku, di mana aku tidak lagi di temani bantal guling dan bonek-bonekaku, di mana aku akan melepaskan masa-masa lajangku, di mana aku akan menyerahkan mahkota keperawananku kepada seorang laki-laki yang sekarang erstatus sebagai suamiku.

Ku pandangi tubuhku melalui cermin besar di meja rias dalam kamarku. Bersama dengan hayalan akan merasakan nikmatnya surga dunia yang tidak pernah terbayang dalam pikiranku, ku lepaskan satu persatu kancing bajuku, ku tanggalkan satu persatu pakaianku, hingga tak sehelai benangpun menutup tubuhku. Ku pegang payudaraku dan ku bayangkan suamiku yang meremasnya. Ku pandangi dan ku sentuh permukaan vaginaku yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang sangat lebat. Malam ini, vaginaku ini akan dimasuki oleh penis suamiku yang aku tidak tahu seperti apa ukurannya.

Ku ambil sebuah pakaian tidur berwarna merah muda yang terbuat dari kain yang transparan dengan panjang setinggi lutut dari lemari pakaian, dan ku kenakan di tubuhku. Aku tertingkah layaknya seorang model di depan cermin, bergerak gemulai dan berputar-putar menyimak setiap detil pakaian tidur yang menempel di tubuhku. Ternyata aku seksi juga dengan pakaian ini. Aku tersenyum sendiri melihat tingkahku di depan cermin.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dan ku lihat Dody, suamiku, masuk ke kamar. Ia tersenyum melihat tingkah gokilku sambil kembali menutup pintu kamar. Aku jadi malu sendiri, karena kepergok suamiku. Tetapi rasa malu itu ku simpan lagi, karena ku sadar, dia adalah suamiku. Tidak ada yang perlu di tutupi darinya. Dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, ia berjalan mendekatiku yang masih berdiri menghadap cermin. Dody memelukku dari belakang, dan meletakkan dagunya di atas bahuku.

“Kamu seksi sekali, sayang!”

“Ah! Dewi jadi malu…”😆

Tangan Dody yang melingkar di pinggangku, tiba-tiba bergerak merayap hingga ke dadaku, kemudian meremas  kedua payudaraku yang hanya ditutupi oleh pakaian tidurku yang tipis. Entah apa rasanya saat payudaraku di sentuhnya, namun yang pasti, tiap sentuhan dan remasan tangannya di patudaraku, mampu membuat darahku berdesir cepat. Aku hanya diam terpejam merasakan kenikmatan itu tanpa tahu harus melakukan apa sebagai sebuah reaksi agar suamiku juga bisa merasakan nikmatnya sentuhan yang dia berikan.

Sambil terus saja meremas kedua payudaraku, Dody mulai menenggerkan bibirnya di leherku. Seluruh tubuhku bergetar, dan bulu romaku pun berdiri merasakan sentuhan itu. Dody menyentuh lembut bulu-buu kecil di tengkukku hingga ke telinga dengan lidahnya. Tak terbayangkan kenikmatan yang ku rasakan. Tetapi aku masih terdiam kaku atas pelakuannya itu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan di saat-saat seperti ini. Guru Biologiku dulu tidak pernah mengajarkan tentang hal ini…😆

Beberapa saat kemudian Dody menghentikan aksinya, sehingga aku bisa kembali membuka mataku yang sejak tadi hanya terpejam merasakan kenikmatan yang Dody berikan. Aku tersadar, ternyata aku masih berdiri di depan cermin. Ku lihat juga di cermin itu, Dody sedang tersenyum menatapku melalui cermin. Aku pun akhirnya juga ikut tersenyum dan tertunduk karena malu atas apa yang kurasakan. Dody kemudian membalikkan tubuhku, sehingga bisa ku lihat sesosok pria berdiri di hadapanku. Dody memegang bahuku dan menatap mataku. Kemudian ia menuntunku ke ranjang pengantin kami dan membaringkan tubuh pasrahku di sana, dengan kaki masih terjuntai di sisi ranjang. Dody naik ke atas ranjang dengan lututnya, kemudian bergerak menindihku. Sesaat ditatapnya mataku, untuk kemudian ia mulai menempelkan bibirnya di bibirku. Ia mulai melumat bibirku, dan akupun mulai merespon aksinya dengan juga melumat bibirnya.

Ciuman pertamaku ini memang tidak begitu memberikan kenikmatan padaku, tetapi suasana yang ditimbulkannya benar-benar menciptakan aroma birahi dalam kamar pengantin kami. Sambil terus melumat bibirku, Dody mulai menarik kemeja tidurku ke atas, sehingga seluruh tubuhku hingga payudaraku terbuka sempurna. Melihat payudaraku, Dody kembali meremasnya dengan salah satu tangannya, sambil terus melumat bibirku. Nikmat sekali yang ku rasakan dari sentuhan itu, apa lagi saat dia memainkan puting payudaraku. Tubuhku bergetar dan darah di tubuhku seakan mengalir deras ke puting payudara.

Dody menghentikan ciuman di bibirku, dan berpindah ke payudaraku. Kedua payudaraku sekarang telah berada dalam cengkaran Dody. Sambil terus meremas payudaraku kiriku, Dody menyumpalkan payudaraku yang satunya ke dalam mulutnya. Nikmat sekali rasanya ketika lidahnya bergerak-gerak melintasi dan menyentuh putingku. Kenikmatan itu telah membuat kedua tanganku secara spontan ku lingkarkan di lehernya. Beberapa saat lamanya Dody memberiku kenikmatan di payudara kananku, kemudian ia berpindah ke payudaraku kiriku. Tak henti-hentinya kenikmatan yang ku terima dari permainan di payudaraku, sehingga aku merasa aroma birahi itu telah mulai turun ke vaginaku. Ada perasaan gatal dan basah pada vaginaku. Perasaan itu benar-benar membuatku tak sabar menanti saat-saat Dody bermain dengan vaginaku.

Seperti mendengar keinginanku, Dody kemudian menghentikan remasannya di payudaraku dan merayap menuju gundukan penuh bulu di selangkanganku. Telapak tangan Dody mulai masuk merayap ke sela pahaku, jemarinya bergerak mencari celah di antara bulu vaginaku yang lebat. Dapat ku rasakan sentuhan penuh gairah ketika jarinya menyentuh belahan vaginaku. Apalagi ketika ia secara tak sengaja menyentuh clitorisku, aku tersentak, karena seluruh energi ditubuhku seakan ditarik ke sana. Merasakan reaksi spontan itu, Dody kembali mencari daerah dimana clitorisku bersembunyi. Setelah ia menemukannya, kembali tubuhku mengejang kuat. Namun kali ini, bukan sentuhan lewat yang ku rasakan. Dody justru memainkan ujung jarinya di clitorisku.

Merasakan itu, aku benar-benar tak mampu menahan gejolak birahi dan kenikmatan. Dari dalam vaginaku seakan ada glester yang tiba-tiba mencair dan mengalir keluar. Aku merasa seperti pipis yang tak tertahan. Dengan sedikit memaksa, aku berusaha bangkit, karena takut air kencingku akan membasahi dan mengotori ranjang pengantinku. Dody terkejut dengan reaksi spontanku itu. Ku tutupi lobang vaginaku dengan tanganku selayaknya menahan air kencing yang mau keluar, tetapi ternyata perasaan mau kencing tiba-tiba saja terhenti bersamaan dengan berhentinya permainan jemari dody di clotorisku. Aku akhirnya menyadari, itu hanyalah reaksi biologis dari dalam vaginaku atas rangsangan yang luar biasa pada clitorisku.

Dody yang terjatuh disampingku karena terkejut melihat reaksiku yang berlebihan hingga sampai terduduk di sisi tempat tidur, akhirnya tertawa kecil dan menyapaku,

“Sayang! ada apa?” mendengar pertanyaan Dody yang terbaring di sampingku sambil mentertawakanku, aku menjadi sangat malu, pipiku memerah. Dengan melemparkan senyum kecil di bibirku, aku melayangkan pukulan manja ke arahnya, namun tanganku justru di tangkapnya dan ditariknya sehingga aku kembali terjatuh ke pelukanku. Dody menatapku, kemudian menarik wajahku dan kembali mencium bibirku.

Karena posisiku yang berada di atas tubuhnya, Dody dengan mudah menarik kemeja tidurku ke atas dan berusaha melepaskannya. Aku pun memberikan izin atas keinginannya itu, sehingga satu-satunya pakaianku yang menutupi tubuhku itu dengan mudah terlepas dari tubuhku. Dody memelukku sehinggga payudaraku menempel di dadanya, kemudian ia berbisik mesra di telingaku.

“Sayang! Aku cinta padamu…”

“Aku juga cinta kamu, Dod…!!”

Sambil terus mencium bibirku, Dody sepertinya sedang berusaha menurunkan dan melepaskan celana panjangnya. Ku angkat sedikit tubuhku sehingga Dody dappat lebih mudah melepaskan celananya. Setelah celananya terlepas, dapat ku rasakan sebuah benda besar menekan perut bagian bawah tubuhku. Selanjutnya dengan dorongan birahi yang telah begitu memuncak dalam diriku, ku coba untuk memberikan sedikit permainan untuk suamiku. Ku buka kancing bajunya satu persatu hingga terlepas semua, lalu ku coba membuka dan melepaskan baju itu dari tubuh Dody. Dody pun membantuku melepaskan pakaiannya dengan sedikit mengangkat tubuhnya yang terbaring di atas tempat tidur.

Akhirnya kami berpelukan sambil terus berciuman dalam keadaan tanpa busana. Dody memeluk tubuhku kemudian berguling dan membalik posisi. Kini tubuh Dody kembali berada di atas tubuhku. Ia terus menciumi bibirku dan melumatnya, sesekali ia memasukkan dan memainkan lidahnya menyentuh lidahku. Aku terus memberikan respon atas setiap permainannya itu. Terasa benar kehangatan dalam pelukan Dody, ketika tak sehelai benang pun menghalangi. Aku sangat bahagia dan damai di dalam pelukannya.

Beberapa saat kami berciuman mesra, Dody mulai mengarahkan ciumannya ke daguku, turun ke leher, dan bergerak perlahan menuju payudaraku. Dengan bibir dan lidahnya, dimainkannya payudara dan puting susuku yang masih kecil kemerahan, dari yang kiri kemudian yang kanan. Tak berapa lama Dody memberiku rangsangan di payudaraku, bibir dan lidah Dody mulai merayap turun ke perut, dan terus turun hingga ke gundukan berbulu di bagian bawah perutku. Di jilatinya bulu-bulu itu hingga basah oleh air liurnya.

Dody mulai membuka kedua pahaku, kemudian ia masuk selangkanganku dan mulai menjilati belahan vaginaku. Tak terbayangkan kenikmatan yang diberikan oleh setiap sentuhan lidahnya, terutama saat ia mulai memfokuskan permainannya di daerah sekitar clotoris. Kembali aku merasakan seperti hendak pipis, seakan ada ribuan liter air yang mengalir deras keluar dari belahan vaginaku. Tetapi hal itu ku sadari hanyalah reaksi biologis atas rangsangan yang diterima oleh clitorisku, sehingga ku biarkan saja perasaan itu dan kunikmati setiap desiran air yang seakan mengalir deras keluar dari vaginaku. Entah memang ada atau tidaknya air yang terasa mengalir begitu deras dari vaginaku itu, tetapi seperti Dody begitu menikmati permainan lidahnya di vaginaku.

Berulang-ulang perasaan mencairnya glaster dalam vaginaku itu ku rasakan. Seperti kenikmatan yang tak kunjung habis yang ku dapat di malam pertamaku. Sementara Dody terus saja menghajarku dengan permainan lidahnya di clitorisku. Aku merasakan vaginaku seperti basah kuyup, entah karena cairan dari vaginaku atau dari air liurnya, aku tak tahu. Namun satu hal yang dapat ku rasakan, kenikmatan itu seperti tak kunjung berhenti meski tubuhnya telah sudah sangat lelah merasakannya.

Akhirnya, Dody menghentikan permainan lidahnya di vaginaku, dan tubuh bugil suamiku beranjak mendekatiku dan mengarahkan penisnya ke lobang vaginaku. Jantungku berdebar-debar membayangkan apa yang akan terjadi kemudian. Dody memegang penisnya dan mulai mengesek-gesekkan kepala penisnya di belahan vaginaku berusaha mencari lobang senggama yang tersembunyi di bagian vawah belahan vaginaku. Setelah ia menemukannya, ia mulai memberikan tekanan untuk menerobos lobang vaginaku yang seumur hidupku belum pernaah dimasuki benda sebesar penis Dody.

Berulang kali Dody berusaha memaksa penisnya masuk ke vaginaku, tetapi sepertinya usaha itu terhambat oleh reaksiku yang merasa kesakitan dengan tekanan memaksa itu. Akhirnya Dody berusaha membasahi penisnya dengar air liurnya. Penis yang sudah licin dengan air liur itu kembali di arahkannya ke lobang vaginaku. Perlahan tetapi pasti, penis dody telah berhasil membuka belahan bibir luar vaginaku menuju bibir di lembut yang ada di bagian dalam vagina. Dody terus mencoba menekan penisnya masuk ke lobang vaginaku yang masih sangat sempit. Dengan penis yang licin dan vaginaku yang telah bersimbah cairan, akhirnya Dody berhasil menenggelamkan kepala penisnya ke lobang senggamaku.

Apa yang ku rasakan hanyalah lobang vaginaku yang kecil seakan dipaksa untuk menganga lebar agar penis besar Dody muat masuk ke dalamnya secara sempurna. Ku buka pahaku lebih lebar dengan harapan penis Dody bisa masuk dengan lebih mudah. Meskipun terasa dipaksakan, akhirnya vaginaku bisa menerima masuknya penis Dody. Sedikit demi sedikit Dody menarik ulur penisnya di vaginaku. Meskipun belum masuk seluruhnya, namun sudah dapat ku rasakan kenikmatan yang dihasilkan gesekan batang penis Dody di dinding lobang vaginaku.

Meskipun memakan waktu yang agak lumayan lama, akhirnya Dody berhasil memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Dody mendiamkan seluruh batang penisnya dalam vaginaku selama beberapa saat. Aku aku dapat merasakan sesuatu yang besar dan hangat sedang menyumbat lobang vaginaku. Dalam diam, Dody kembali mencium bibirku kemudian turun ke payudaraku.

Saat Dody mulai menarik kembali penisnya keluar dari lobang senggamaku, ku rasakan sebuah gesekan yang mampu menarik seluruh sisa energi yang ku miliki menuju ke vaginaku. Bagitu juga pada saat dia kembali menekan penisnya ke dalam vaginaku, ku rasakan setiap gesekan di dinding vagian sebagai sebuah kenikmatan yang luar biasa yang tidak bisa ku gambarkan. Berulang-ulang Dody menarik dan memasukkan kembali penisnya di lobang vaginaku, berulang-ulang juga kenikmatan yang tak tergambarkan itu menerpa tubuhku. Sehingga pada saat Dody mulai mempercepat gerakan penisnya, aku merasakan adanya aliran glester yang lebih besar mengalir lebih deras mengisi lobang vaginaku yang masih tersumbat penis Dody. Semakin cepat gerakan yang dimainkan Dody, semakin aku tak bisa menggambarkan kenikmatan itu.

Hingga pada akhirnya, Dody memacu permainannya hingga kecepatan yang tertinggi yang bisa ia lakukan, aku tak tahu lagi apa yang ku rasakan. Seluruh tubuhku seakan melayang terbang merasakan kenikmatan yang tak pernah ku rasakan sebelumnya dalam hidupku. Desah nafas Dody dan nafasku saling berpacu, dan keringat mulai membasahi tubuh Dody. Ada suara decak air dalam vaginaku setiap kali penis Dody menerobos masuk ke dalamnya. Aku benar-benar dibuatnya tak bisa lagi menyadari apa yang ku lakukan. Rintih nyaring kenikmatan dari bibirku seakan tak terdengar, yang ada hanyalah birahi dan kenikmatan. Mungkin ini yang selalu mereka sebut-sebut sebagai surga dunia. Kenimatannya benar-benar tak tergambarkan oleh kata-kata. Lelah tubuhku seakan tak terasa di saat aku berada di surga dunia….😮

Sementara Dody tak henti-hentinya memacu gerakan penisnya di dalam lobang vaginaku yang sudah sangat becek. Sepertinya suamiku juga mulai mendekati puncak kenikmatan dalam permainannya. Desah nafasnya terengah lelah tetapi ia tetap tidak berhenti memompa lobang vaginaku. Gerakannya semakin cepat, dan semakin cepat hingga akhirnya terhenti dan dengan satu hentakan keras ia benamkan penisnya hingga terasa menyentuh pintu rahim di sisi terdalam pada lobang vaginaku. Dapat ku rasakan cairan yang hangat mengisi vaginaku. Dalam pikirku, Dody telah menumpahkan spermanya ke rahimku. mudah-mudahan salah satu dari sel sperma Dody ini akan bertemu dengan sel telur yang telah lama menunggunya di dinding rahimku.

Dody mengeluarkan penisnya dari lobang vaginaku dan terhempas kelelahan di sampingku. Bersamaan dengan keluarnya batang penis Dody dari vaginaku, cairan bening yang bercampur sedikit darah perawan mengalir dari lobang vaginaku. Aku bahagia melihat campuran cairan itu, karena aku telah mendapatkan kenikmatan surga dunia sekaligus bahagia karena bisa memberikan keperawananku pada seseorang yang memang seharusnya mendapatkannya.

Sepray yang basah, dan ternoda tidak lagi ku perdulikan. Ku peluk tubuh suamiku dengan penuh perasaan puas dan bahagia. Akhirnya, aku juga bisa merasakan nikmatnya malam pertama yang pada awalnya harus terasa sedikit sakit. Tetapi kepuasan dan kenikmatan yang ku dapatkan jauh lebih besar dari sakitnya melepas keperawanan. Akhu berharap suamiku juga merasakan kenikmatan dari persenggamaan pertama kami ini.

Malam yang melelahkan ini membuatku bisa menikmati tidurku bersama seseorang yang kucintai berada di pelukanku. Kenikmatan yang baru pertama ku rasakan ini, seakan hadir kembali dalam mimpiku, sehingga membuat malam pertamaku benar-benar menjadi malam terindah dalam hidupku…..

Lihat juga:

Video Malam Pertama

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: