Usiaku Baru 13 Tahun

Namaku Ridhya. Saat ini aku sudah kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kotaku. Kisah ini adalah tentang saat pertama kali aku melakukan hubungan seks. Saat itu usiaku baru 13 tahun, dan masih belum mengerti tentang seks. Di usiaku itu, memang tidak seharusnya aku mengenal seks, tetapi keadaan membuat aku harus mengenal seks lebih awal. Begini ceritanya….šŸ˜†

*****************

Ketika aku lulus SD, Ayah bercerai dengan Mama, semenjak itu aku hanya tinggal dengan Mama dan Kakakku, Angga, yang harus berhenti kuliah karena Mama sudah tidak mampu membiayai kuliah. Sejak perceraian itu terjadi, Ayah kawin lagi dengan seorang wanita muda dan tinggal di Jakarta. Kak Angga sekarang bekerja di sebuah pabrik pengolahan kayu yang berjarak tak begitu jauh dari desa tempat tinggalku. Sementara Mama bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang juragan di desaku. Mama dan kakakku tidak pernah berada di rumah pada saat siang hari. Mereka sibuk dengan rutinitas pekerjaaannya masing-masing. Jadi, setiap pulang dari sekolah, aku hanya sendiri di rumah. Karena terbiasa sendiri itu, aku juga terbiasa dengan pekerjaan rumah seperti memasak dan mencuci pakaian.

Hari itu sepulang sekolah, aku langsung ke rumah tempat Mamaku kerja. rencananya mau minta izin langsung ke sekolah, karena sorenya ada kegiatan PRAMUKA di sekolah. Tetapi ku lihat dari luar, rumah tempat Mamaku bekerja sebagai pembantu itu terlihat sangat sepi. Pintu pagar memang terbuka, pintu depan tertutup dan sepertinya tidak ada suara orang di dalam rumah. Akhirnya, ku coba mengetuk pintu dan memanggil pemilik rumah.

“Juragan!” panggilku sambil mengetuk pintu depan. Beberapa kali ku coba mengetuk, tetapi tidak ada jawaban. Semula aku berpikir untuk pulang ke rumah, mungkin Mamaku pulang lebih cepat. Tetapi sebelum itu, aku mencoba menyisir jalan di samping rumah tersebut, siapa tahu pemilik rumah atau Mama mungkin sedang berada di belakang rumah.

Saat aku sedang menelusuri sisi rumah tempat Mamaku bekerja, aku mendengar suara seorang perempuan sedang mendesah dalam kamar yang berada di bagian bekang rumah. Aku penasaran dengan suara itu, akhirnya ku dekati sebuah jendela kaca dan mencoba melihat siapa yang ada di dalam kamar itu dan kenapa wanita itu mendesah.

Alangkah terkejutnya diriku dengan apa yang ku lihat melalui jendela kamar tersebut. Pak Hermadi, Juragan pemilik rumah tempat Mamaku bekerja sebagai sebagai pembantu rumah tangga, sedang berbaring terlentang di atas tempat tidur tanpa sehelai pakaian pun. Sementara itu, duduk di atas perutnya seorang perempuan yang tidak lain adalah Mamaku sedang menggoyang-goyang pantat dan pinggulnya juga dalam keadaan bugil.

Melihat pemandangan yang tidak biasa itu, bibirku secara tidak sadar memanggil Mama. Pak Hermadi dan Mama terkejut mendengar suaraku dari balik jendela kamar. Mereka langsung menghentikan aktivitas mereka dan kembali mengenakan pakaian yang berhamburan di dalam kamar tidur itu. Aku yang masih belum mengerti, tentang apa yang mereka lakukan hanya terdiam melihat mereka mengenakan kembali satu-persatu pakaian mereka. Mama kemudian bergegas keluar dari kamar dan datang menemuiku di depan rumah.

“Kenapa kamu kesini, Sayang?” tanya Mamaku yang menyambutku di pintu depan rumah Pak Juragan.

“Ma! tadinya aku cuman mau minta izin, soalnya sore ini ada kegiatan PRAMUKA di sekolah. Aku ketok-ketok pintunya, nggak ada yang buka, makanya aku coba lihat ke belakang, siapa tahu Mama ada di belakang.”

“Ya, sudah..!! Kamu boleh langsung balik lagi ke sekolah. Tapi jangan kamu ceritakan pada siapa-siapa ya tentang apa yang kamu lihat hari ini, ya Sayang!” Kata Mama padaku, seraya memberikan uang 5ribuan kepadaku. Tiba-tiba di belakang Mama, Pak Juragan juga memberikan selembar uang 50ribu kepadaku, kemudian berkata kepadaku:

“Ini, Bapak kasih uang jajan juga buat kamu!”

“Ah..! Tidak usah juragan!” kata Mamaku pada Pak Hermadi. Tetapi Pak Hermadi mendekatiku dan berdiri di sampingku sambil memasukkan uang tersebut ke saku baju seragam PRAMUKA yang ku kenakan. Entah sengaja atau tidak, ia sempat menyentuh payudaraku yang baru tumbuh, sambil membisikkan di telingaku:

“Bapak akan memberikan 2x lipat, jika besok kamu mau kesini dan melakukan seperti yang dilakukan Mamamu pada Bapak.”

Mendengar permintaan Juragan yang dibisikkan ke telingaku itu, tiba-tiba Mama menjawab:

“Jangan Juragan! Ridhya masih terlalu muda! Jangan hancurkan masa depannya Juragan..!!”

Aku yang tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, hanya mengiyakan dan beranjak meninggalkan Mama dan Juragan yang masih berada di depan rumah. Meskipun tersimpan sejuta pertanyaan dalam benakku tentang apa yang baru saja ku lihat antara Mama dan Juragan, tetapi tidak begitu perduli. Hal yang membebaniku adalah, kenapa aku harus merahasiakan apa yang mereka lakukan di dalam kamar tersebut.

*****************

Rasa penasaran tentang apa yang hari itu ku lihat, membuatku merasa benar-benar ingin tahu. Awalnya, aku ingin mencoba bertanya pada Kak Angga,Ā tetapi aku ingat bahwa Mama melarangku untuk menceritakan pada siapapun, jadi niat itu ku urungkan. Pak Hermadi juga menawariku uang jajan 2x lipat jika aku mau melakukan apa yang dilakukan Mama terhadapnya. Entah apa yang harus ku lakukan, tetapi jelas tawaran Juragan sangat menggiurkan bagiku.

Malam itu, sekitar pukul 22.00, dari kamarku ku dengarĀ Kak Angga mematikan TV dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat, karena besok ia akan kembali bekerja. Sementara aku dan Mama sudah sejak tadi berada di kamar kami masing-masing. Karena rasa penasaran atas pertanyaan yang tak terjawab, beberapa saat setelah Kak Angga masuk ke kamarnya, aku keluar dari kamarku menuju kamar Mama. ku ketok kamar Mama dengan perlahan, karena berharap Kak Angga tidak mengetahui rahasia antara aku dan Mama. Dengan suara sedikit berbisik, ku panggil Mamaku dari depan pintu kamarnya. Ku dengar Mama berjalan melangkah ke depan pintu dan kemudian membuka pintu kamar.

“Ridhya!” Kata Mamaku yang terkejut saat melihatku ada di epan kamarnya. Bersamaan dengan itu, aku juga sangat terkejut dan terperangah, karena saat membukakan pintu kamarnya, Mama tidak mengenakan sehelai kain pun untuk menutupi tubuhnya. Dalam keadaan sama-sama terkejut itu, Mama kemudian menarikku ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya.

“Kenapa kamu kesini, Sayang?” Tanya Mama.

“Aku hanya mau tanya, kenapa Ridhya harus merahasiakan yg terjadi di rumah juragan? Memangnya ada apa sih, Ma?” Tanyaku pada Mama karena saat ituĀ aku benar-benar tidak mengerti dan sangat penasaran. Mama terdiam menatapku selama beberapa saat. Kemudian dia berkata kepaaku.

“Sayang! semakin kamu mengerti tentang masalah orang dewasa, maka akan semakin banyak rahasia yang harus kamu jaga.”

“Ma! Jika memang harus begitu, Ridhya siap, Ma! Ridhya hanya pingin tahu aja kok, Ma!”

“Sayang! kamu masih terlalu muda untuk mengerti masalah ini.”

“Ridhya kan sudah SMP, Ma! kalau Mama terus menyuruh Ridhya merahasiakan ini, siapa yang akan menjawab pertanyaan Ridhya.?”Ā Mama kembali terdiam menatapku. Sepertinya ia tidak tahu harus menjawab apa lagi untuk mengelak dari pertanyaanku. Dengan pandangan tajam dan jauh ke dalam mataku, kemudian Mama menjawab.

“Jika kamu memang siap, Baiklah! Mama akan jelaskan padamu…!! Tunggu di sini dan lepaskan seluruh pakaianmu..!!” setelah mengatakan itu, Mama keluar dari kamarnya tetap dengan tubuh bugilnya dan meninggalkanku sendiri dalam kamarnya. Seperti apa yang dia perintahkan, kulepaskan seluruh pakaianku hingga seluruh tubuh kecilku bugil tanpa busana. Aku semakin penasaran, seperti apa jawaban yang akan ku dengarkan, apakah aku benar-benar sudah siap dengan konsekuensi yang Mama berikan.

*************

Tak berapa lama, pintu kamar Mamaku kembali terbuka, kemudian ku lihat Mama masuk ke dalam kamar, tetapi aku terkejut, karena Kak Angga berjalan di belakangnya juga tanpa mengenakan sehelai pakaian pun.

“Kak Angga!” kataku dengan nada terkejut.

“Ridhya!” Kak Angga pun terkejut melihatku ada di kamar Mama dalam keadaan telanjang bulat. Kak Angga menatap ke arah Mama, lalu berkata, “Ma! Kenapa Ridhya ada di kamar Mama?”

“Biarkan saja! Malam ini biarkan adikmu menjadi wanita dewasa…” Jawab Mama sambil menarik tanganku dan membimbingku naik ke atas tempat tidurnya. Dalam keadaan tidak mengerti tentang apa yang aku lihat, Aku duduk di atas tempat tidur Mama, sementara itu Mama membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya itu, kemudian berkata pada Kak Angga:

“Sayang! Cepat lakukan seperti biasa!” Aku benar-benar tak mengerti, mengapa Mama mengatakan itu pada Kak Angga. Apakah ini hal yang biasa bagi mereka orang-orang dewasa? Selain aku yang hanya terdiam melihat Mama yang telah terbaring dengan kedua pahanya mengangkang, Kak Angga juga terlihat bingung. Sepertinya dia tidak tahu harus melakukan apa. Mama kembali menatap Kak Angga, lalu berkata:

“Angga! Ayo..!! Biarkan adikmu melihat apa yang ingin dia ketahui…!!”

Dengan ragu-ragu Kak Angga melangkah mendekati Mama dan dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya ke selangkangan Mama lalu menjilati belahan vagina Mama yang ditumbuhi bulu hitam yang sangat lebat. Apa maksud Mama menunjukkan ini terhadapku masih belum bisa ku mengerti. Aku hanya terdiam dan terus mengamati Kak Angga yang terus menjilati vagina Mama. Sementara Mama mulai mendesah dengan irama nafas yang semakin cepat, seperti merasakan sesuatu yang sangat nikmat.

Tak lama kemudian, Kak Angga naik ke atas tempat tidur Mama dan memposisikan tubuhnya di antara paha Mama. Saat Kak Angga mulai naik ke tempat tidur Mama, aku terbelalak. Ini pertama kali aku melihat kemaluan laki-laki yang terlihat begitu keras, besar dan panjang mengacung tegak menatap langit. Aku tidak pernah mengetahui bahwa ternyata alat kelamin laki-laki bisa keras seperti itu.

Kak Angga kemudian mengarahkan kepala kemaluannya ke belahan vagina Mama dengan tangannya dan kemudian mendorong pantatnya dengan perlahan hingga akhirnya batang kemaluan Kakak tenggelam dalam lobang kemaluan Mama. Melihat apa yang ada di depan mataku, tanpa sadar tanganku menyentuh vaginaku dan membayangkan kemaluan bisa masuk dalam lobang vaginaku yang kecil.

Dalam keterpukauanku melihat pemandangan yang tidak pernah aku saksikan sebelumnya, tiba-tiba tangan Mama menyentuh vaginaku dan memainkan jari tengahnya di permukaan belahan vaginaku. Aku berusaha tetap diam dan merasakan. Mungkin ini cara Mama menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Mama terus menyentuh vaginaku hingga semakin lama, semakin dapat ku rasakan semacam sensasi alamiyah yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya. Ada kenikmatan yang tidak bisa ku ungkapkan dalam bentuk kata-kata, kemikmatan yang mampu membuat jantungku berdetak kencang dan membuat darahku berdesir kencang. Tanpa sadar, aku larut dalam kenikmatan itu. Mataku terpejam, seolah tidak lagi ingin mengetahui apa yang dilakukan Kak Angga terhadap Mama.

Beberapa saat kemudian, Mama berhenti menyentuh vaginaku. Ia berbalik dalam posisi menungging dan membuka selangkanganku. Kali ini Mama melakukan apa yang dilakukan Kak Angga terhadapnya tadi, yaitu menjilati belahan vaginaku. Karena posisi yang tidak begitu pas, maka Mama menarik tubuhku sehingga aku tidak lagi dalam posisi duduk sempurna, tetapi berbaring mengangkang dengan tubuh yang masih di tobang oleh kedua lenganku. Dalam posisi seperti itu, dapat ku lihat Kak Angga kembali mengambil posisi di belakang Mama yang sedang menungging. Ia kembali mengarahkan kemaluannya yang terlihat sangat keras ke lobang vagina Mama dan memasukkannya. Ku lihat Kak Angga sangat menikmati saat batang penisnya keluar masuk vagina Mama.

Sementara itu, permainan lidah Mama di belahan vaginaku juga benar-benar membuatku merasakan nikmat yang luar biasa. Seluruh syaraf di tubuhnya rasanya tertarik ke vaginaku. Aku tak kuasa tuk diam. Sensasi lidah Mama membuat seluruh tubuhku mengejang. Hingga akhirnya aku merasa pipis dan seluruh tubuh menjadi lemas. Melihat aku seperti itu, Mama menghentikan jilatannya. Dia bergerak mendekatiku, sehingga kemaluan Kak Angga yang masih sangat tegang itu keluar dari lobang Vagina Mama. Mama berbaring disampingku dan berkata:

“Sayang! itulah rahasia orang dewasa… Meski kamu terlalu dini untuk mengenalnya, tetapi Mama yakin, kamu bisa mengerti bahwa itulah kebiasaan orang dewasa yang tidak bisa mereka tinggalkan…”

Aku yang kelelahan terbaring di samping Mama. Mama juga terlihat sangat lelah dengan apa yang baru saja kami lakukan dalam kamar itu. Sementara Kak Angga masih terduduk di atas tempat tidur Mama sambil memegang batang kemaluannya yang masih tegak berdiri. Kak Angga kemudian juga berbaring di belakang Mama sambil kembali memasukkan batang kemaluannya ke lobang vagina Mama dari belakang dalam posisi Miring. Dapat ku lihat dengan jelas, lobang vagina Mama terbuka lebar karena dimasuki oleh penis Kak Angga. Bibir vagian Mama juga bergerak mengikuti keluar masukknya kemaluan Kak Angga di vagina Mama.

Sambil meremas-remas payudara Mama yang besar, Kak Angga terus menggenjot lobang vagina Mama. Dalam posisi Mama yang masih terbaring miring menghadapku, ku lihat Mama terpejam merasakan permainan Kak Angga. Aku yang telah terkulai di hadapan Mama sambil terus menyaksikan pemandangan orang dewasa, kembali berpikir, seperti apa kenikmatan yang dirasakan saat penis masuk dalam lobang vagina.

Dengan membawa rasa penasaran yang besar, ku beranikan diri menyentuh kemaluan kakakku yang masih keluar masuk di lobang vagina Mama. Dapat ku rasakan batang kemaluan kakak yang masah oleh cairan vagina Mama. Mungkin cairan itulah yang membuat kemaluan laki-laki bisa dengan mudah keluar masuk di lobang vagina yang sempit, pikirku…šŸ˜†

Masih dalam posisi miring tersebut, tiba-tiba Kak Angga berbisik di telinga Mama:
“Ma! Boleh nggak Angga maen sama Rithya?” Mendengar bisikan Kak Angga itu, aku sangat senang, karena aku juga berkesempatan merasakan seperti apa kenikmatan yang Mama rasakan saat lobang vaginanya yang basah ditusuk oleh kemaluan laki-laki.

“Belum!” Jawab Mama. Mendengar jawaban Mama itu, aku merasa sedih dan hanya terdiam dalam rasa penasaran dan membayangkan kenikmatan yang mereka rasakan.

Akhirnya, permianan mereka berakhir ketika Mama terlihat mengejang dan meminta Angga mengeluarkan penisnya dari vagina Mama. Ku lihat batang penis Kak Angga masih tegak berdiri, dan sepertinya ia masih ingin menggenjot lobang vagina Mama. Tetapi sepertinya Mama benar-benar kelelahan atau mungkin juga Mama telah mencapai puncak kenikmatan. Mama kemudian memelukku dan berkata padaku:

“Sayang! Sekarang kamu sudah mengetahui semua rahasia kehidupan orang dewasa. Suatu saat nanti, kamu juga akan merasakan bagaimana seorang laki-laki atau perempuan tidak bisa menahan diri untuk melakukan ini…” Aku dan Kak Angga hanya terdiam dan mengangguk mendengar perkataan Mama itu….

Bersambung….. Ku berikan keperawanku

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: